Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Bilal dan Hilal

Cerpen oleh Yusuf Sulaiman, santri kelas 1-D asal Karawang

Palestina…

Malam yang gelap, suara senjata, mesin berat, dan ledakan di mana-mana menjadi musik malam bagi warga Palestina.

Jakarta…

Aku terbangun di sebuah hotel yang nyaman. Ibuku dan ayahku tidak ada, sedangkan adikku—yah, dia sedang asyik bermain dengan gadget-nya.

“Bangun, Bang! Dasar pemalas,” ucapnya. Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku lalu duduk, mengambil handphone-ku, kemudian membuka grup Relawan Palestina.

‘Pesawat para relawan akan berangkat jam 10:30 di Bandara Soekarno-Hatta.’

Kata admin grup. Kulirik jam, 09:00. Sebentar lagi. Aku lalu bersiap-siap, kemudian pergi.

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta…

Aku dan 183 relawan lainnya sudah ada di pesawat, menunggu keberangkatan. Akhirnya, pada jam 10:43, pesawatku terbang dengan jumlah orang sebanyak 212 yang sudah siap mati membela saudara kami.

Bandara Palestina…

Pesawat kami mendarat dengan lancar di tempat yang terlihat belum diserang. Saat itu, rakyat Palestina sudah mengambil alih kembali beberapa kota. Tak berselang lama setelah kami mendarat, ada sekitar 50 orang berpakaian tentara. Mereka adalah prajurit penjaga bandara. Mereka lalu mengantarkan kami ke Kota Jericho (Ariha). Sesampainya di sana, kami disambut dengan baik oleh beberapa pimpinan daerah. Salah satunya adalah Pak Ali. Pak Ali lalu mengantarkan kami ke sebuah rumah sakit yang agak rusak, tapi ruang bawah tanahnya masih aman. Di sana, kami melihat anak-anak Palestina yang sakit dan terluka.

Hatiku tak kuat melihatnya. Air mataku pelan-pelan meluncur sedikit demi sedikit. Kami lalu dibagi menjadi beberapa tim: pelatih, penyembuh, penyelidik, dan pembuat. Aku masuk ke tim pelatih. Di sana, kami melihat anak-anak seusia SMP-SMA sedang latihan. Aku lalu berkenalan dengan dua anak kembar, Bilal dan Hilal. Mereka berdua cukup jago dalam hal bertarung. Kami lalu berjalan-jalan sebentar.

Tiba-tiba, ada dua pesawat tempur terbang di atas kami. Bagian bawah pesawat itu terbuka, lalu banyak bom keluar dan menghujani daerah di sekitar kami. Kami segera berlindung di belakang tank yang setengahnya telah hancur. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya suara pesawat itu hilang, tergantikan oleh suara jerit tangis warga Palestina yang kesakitan. Bau asap pun sangat menyengat. Kami keluar dari tempat persembunyian. Hati yang sudah agak tenang, kembali menjadi sedih. Aku dan para relawan lainnya membantu rakyat Palestina yang terluka. Banyak yang syahid, bangunan-bangunan hancur. Tekadku menjadi lebih kuat lagi untuk membantu saudaraku.

CHAPTER 1: PENYERANGAN KE KOTA JENIN

Seminggu kemudian, aku dan para ketua relawan serta ketua Kota Jericho berkumpul untuk merencanakan penyerangan ke Kota Jenin yang sudah dikuasai oleh Israel. Kami lalu berdiskusi. Salah satu ketua tim pembuat berdiri dan berkata,

“Kami dari tim pembuat sudah membuat beberapa alat perang yang cukup bagus untuk berperang, Pak.”

“Hm… Baiklah, tunjukkan apa saja benda itu,” jawabnya.

Sang ketua tim pembuat itu menyalakan layar TV dan menunjukkannya.

“Ada bom drone, mini tank, ranjau, super mini bom, misil kecil, dan misil sedang.”

“Dan kita memiliki sekitar 13 tank yang sudah diperbaiki dan di-upgrade, 7 tank yang belum diperbaiki tapi masih bagus, 6 pesawat tempur, 1 pesawat bomber, dan 4 helikopter yang cukup besar,” ujarnya.

“Apakah semuanya ada amunisinya?” tanyaku.

“Ada,” jawabnya.

Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya kami bersiap-siap untuk berangkat ke Jenin. Setelah persiapan selesai, kami berangkat. Saat sudah dekat dengan Jenin, kami bersembunyi. Serangan dimulai dengan meluncurkan bom misil. Setelah banyak markas hancur, barulah kami memulai serangan. Kami maju dengan senjata seadanya, tapi kami berhasil memukul mundur Israel.

Dalam pertempuran ini, Bilal dan Hilal ikut bertempur. Mereka sangat hebat saat berdua—kompak. Hingga akhirnya, setengah kota berhasil kami kuasai. Aku bertemu dengan Hilal dan bersembunyi di reruntuhan bangunan untuk beristirahat.

“Lah, si Bilal mana?” tanyaku.

“Gak tahu,” jawabnya sambil membuka bekal. Saat kami sedang makan, tiba-tiba—

Syut! Cess!

Sebuah peluru menembus kami. Hilal mengaduh kesakitan. Aku menoleh, ada sekitar 10 orang mengejar kami.

Dor! Dor! Dor!

Tiga orang kena, satu meleset. Hilal ikut membantu sambil duduk.

DOR! Dor! Dor! Pcing! Pcing! Cess! DOR! Dor! Dor! Tang! Dor!

Pertarungan sangat sengit. Pipiku berdarah. Tersisa dua orang lagi.

Dor! Dor! Dor!

Tiba-tiba, dua orang itu sudah mati dengan tembakan di dahi. Bilal datang dan membantu membawa Hilal ke rumah sakit. Setelah 11 jam berperang, akhirnya kami dapat menguasai Kota Jenin dan kembali ke Jericho.

CHAPTER 2: SERANGAN DARI ISRAEL

Setelah cukup lama berada di Jericho, kami akhirnya pindah ke Yerusalem. Hilal juga dibawa karena membutuhkan penanganan lebih lanjut. Setibanya di sana, kami disediakan tempat tinggal khusus untuk relawan. Tapi Bilal dan Hilal diberikan izin tinggal karena mereka adalah murid yang kupilih untuk ikut, dan juga karena Hilal masih dalam kondisi luka.

Dua hari kemudian, Hilal dibawa ke rumah sakit untuk operasi. Saat kami menunggu di luar, aku berbincang dengan Bilal. Rumah sakit itu cukup penuh dengan pasien korban penyerangan. Tetapi ada yang aneh—makin lama pasiennya makin banyak. Aku lalu bertanya kepada salah satu perawat.

“Permisi, kenapa makin banyak pasiennya?”

“Israel menyerang daerah sini!!” jawabnya dengan tergesa-gesa.

Apa?! Yerusalem diserang?! Aku segera mengambil senapanku. Duar! Bom! Gleger! Suara terdengar sangat kencang.

“Bilal! Kau jaga Hilal sementara aku akan menghadapinya, para Zionis!” ujarku sambil berlari. Bilal mengangguk.

Sesampainya di luar, aku melihat banyak ledakan di mana-mana. Orang-orang berjatuhan. Aku terkena luka yang agak banyak. Aku lalu melihat ke arah rumah sakit dan berlari masuk. Di sana, aku melihat para pasien dibantai. Aku pun membalas membantai para Zionis.

Setelah pertempuran, aku berlari menuju ruangan Hilal. Dan aku tak percaya dengan apa yang kulihat…

Bilal terbaring bersimbah darah, tubuhnya tertembak. Dengan sisa tenaga, ia berkata, “Alif, jaga Hilal…” lalu menghembuskan napas terakhirnya.

Aku menangis sejadi-jadinya. Hilal juga menangis sambil memeluk tubuh kakaknya yang kini kaku.

CHAPTER 3: SERANGAN KEMBALI

Seminggu setelah kepergian Bilal…

Hilal sudah pulih dari lukanya, tetapi dia masih bersedih. Aku pun butuh waktu lama untuk pulih dari rasa kehilangan itu. Setelah lima bulan, Hilal kembali seperti dulu—ceria.

Suatu hari, kami sedang berjalan-jalan dan…

Duar!!! Sebuah bom menghantam sebuah gedung. Israel menyerang! Aku dan Hilal berlari menuju tempat tinggalku. Kami berdua segera mengambil senjata dan mengabarkan kepada yang lain. Sesampainya di sana, kami disambut oleh hujan peluru dan bom. Banyak orang langsung menemui syahidnya. Saat aku lengah, tiba-tiba…

Dor! Sebuah peluru menembus kakiku. Aku terjatuh. Tentara itu mendekat dan hendak menembakku.

“Kasihan sekali kau, anak muda,” ujarnya dengan congkak.

“Nanti dulu,” ujarku.

Aku lalu menendangnya dengan satu kaki hingga ia terpental agak jauh.

“Bocah sialan!” bentaknya. Ia lalu menembak ke arahku.

Dor! Dor! Aku merasa sudah mati… tapi kenapa tidak terasa? Aku membuka mataku dan melihat Hilal menutupiku dengan tubuhnya. Aku kaget.

Bruk! Tubuhnya terjatuh.

“Kurang ajar!!” teriakku dengan penuh amarah. Aku lalu menembak tentara itu hingga ia jatuh tak bergerak lagi.

“Hilal! Hilal!” teriakku sambil menggoyangkan tubuhnya yang sudah terluka parah dan sekarat.

“A… Alif,” ucapnya terbata-bata.

“Te..terima…kasih…te…telah…menemaniku… Laa Ilaha Illallah Muhammad…. Rasulullah….”

Aku terpaku. Tubuhnya kini sudah kaku.

“Hilal! Hilal!” isakku. “HILAAAAL!!!”

Tak berselang lama, suara ambulans terdengar. Jasad Hilal dibawa ke dalam ambulans. Aku ikut menghantarkannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya dengan penuh kesedihan.

CHAPTER 4: PULANG

Seminggu setelah kepergian Hilal…

Aku sedang mengemas barang. Waktu kami sudah habis. Rombongan relawan akan pulang kembali ke Indonesia.

Bandara Palestina…

Pesawat kami lepas landas dengan aman. Di atas awan, aku membayangkan wajah Bilal dan Hilal. Pelan-pelan, air mataku mulai mengalir.

Tak terasa, kami sudah sampai di Indonesia. Kami semua bahagia bisa kembali ke tanah air tercinta. Setelah mendarat, aku disambut oleh keluargaku. Mereka senang aku pulang dengan selamat, aku pun senang.

Saat perjalanan pulang, aku kembali teringat Bilal dan Hilal.

“Hai Bilal, hai Hilal, bagaimana kabar kalian di sana?” pikirku.

Exit mobile version