Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Diranda Negeri Bir, 1918

Oleh: Darrel Abiyyu Rakha, 1 Int B, Tangerang

Hari-hari biasa, pagi-pagi yang masih segar dengan aroma bubuk mesiu kembali dirasakan para tentara di garis belakang. Amiens, adalah tempat para tentara Jerman terbaring kusut dan lemah. Serangan tak kian berhenti dari pihak sekutu hanya menambahkan rasa ingin pulang segera dan berbaring di kasur.

Para tentara Jerman yang masih bertahan di garis belakang selalu menunggu jemputan mereka, kematian. Merekalah para diranda yang siap berkorban demi bangsa. Parit-parit mereka baru saja ditanami senapan kejam ‘stasioner,’ dan beberapa bongkah artileri baru, hadiah dari sang jendral.

Pagi hari, saat para tentara bersiap dengan senapan mereka, parit meraka didatangi beberapa pemuda yang berlarian, penuh dengan luka. Mereka adalah tentara dari garis terdepan.

“HOI, jangan tembak, kami pihak kalian”. Teriak seorang pemuda yang berlarian itu.

Para tentara yang sudah bersiap-siap itu masih kebingungan, apakah garis terdepan sudah lenyap dan hancur? Apa yang terjadi pada orang-orang di depan sana? Tidak ada pesan apapun dari ketua regu dan divisi di sana.

Para tentara dari garis depan tadi dengan langsung merosot menuju parit yang licin itu, dan mereka meminta air pada salah seorang tantara.

“Apa yang terjadi? Mereka semua sudah mengambil alih garis depan?” Desak seorang tentara.

“Kalau tak percaya, mereka tak berhenti mengirim Panzer kepada kita, saat itulah kita kehabisan amunisi” Kata seorang tentara garis depan dengan panik dan letih.

Ini bertanda, bahwa pihak sekutu yang terdiri dari Prancis, Amerika, dan Inggris beserta teman-temannya telah sampai. Entah apa lagi yang mungkin mereka temukan lagi ke depannya.

Raut wajah para tantara yang mengelilingi para pendatang dari garis depan itu berubah menjadi ketakutan, sedih, dan terkejut.

“Hei! Berhenti meratapi keadaan, kalian ingin pulang dan disambut di Berlin, kan? Angkat senjata kalian dan bersiaplah atas segala hal yang akan terjadi nanti!!” Stein, kalangan tua di antara mereka berbicara lantang.

Seketika mereka hilang motivasi untuk maju, mereka hanya ingin segalanya cepat berakhir.

“Ingatlah akan janji kaisar kepada kita semua, kita akan kembali membawa mendali, dan itu yang akan dibangggakan anak-cucu kita kelak!” Stein berusaha meredam keadaan.

“Stein, sudah waktunya bagi kita untuk menurunkan senjata, apa yang kaisar katakan hanya sekedar bahasa lidah mausia biasa, janji manis” Fritz sekali lagi membantah pidatonya tersebut.

“Pikirkan baik-baik, apa yang menunggu di luar sana, kau tahu-“

“DAS FLUGZUEG!!”

Sebuah pesawat Sopwith Camel Inggris terbang rendah, tak jauh dari penglihatan para tentara.

“Operasikan Flak diujung sana secepatnya!” Teriak Fritz.

Salah seorang dari mereka pun dengan cepat berlari menuju Meriam anti pesawat di ujung asat parit dan mengoprasikannya.

Skreeeeett.. trat… trat… trat…*

Tembakan demi tembakan dimuntahkan oleh Meriam tersebut, diiringi suara senapan mesin MG08 stasioner yang diangkat oleh dua tentara untuk mengejarnya dengan peluru 7 x 57 Mauser yang padat itu.

“Oh tuhan, kitta kehilangan dia” Desah Karl, sang prajurit muda yang mengoperasikan

Flak tadi.

Mereka mungkin berhasil memberi cedera dan sedekit kerusakan pada pesawat tersebut tapi sayangnya ia lari begitu saja, hulang menuju kabut tebal di atas No Man’s Land.

“Aku rasa ia adalah pesawat mata-mata, sudah lah” Keluh Fritz

Setiap jam, gumpalan awan dan kabut datang dalam bentuk baru, ditemani suara tembakan dam ledakan. Pos artileri di belakang garis terbelakang juga melaporkan bahwa dalam tiga hari saja, mereka akan kehabisan amunisi. Hal inilah yang membuat banyak tentara mulai berpikir bahwa usaha ini sia-sia, mereka tak akan kembali pulang hidup-hidup.

Tertunduk Fritz, Stein, Herman, Karl, Stefan dalam suatu kumpulan di parit. Menyantap suplai makanan tersisa, tanpa memilih-milih, cukup apa adanya.

“Kau tahu apa, hari ini lumayan berbeda,” Fritz memulai pembicaraan.

“Ya, sangat… sunyi… sunyi… bunyi dentuman dan ledakan tak sekuat kemarin.”        Stein membenarkan hal tersebut.

Hari ini, tiba-tiba berhenti suara senapan, tembakan artileri, dan mesin-mesin berat dari kejauhan, apa yang terjadi?

Dengan rasa penasaran, para penghuni parit bersetuju untuk mengirim seorang mata-mata untuk melihat keadaan di garis terdepan, bagaimana statusnya? Apakah mereka menyerah atau sudah memukul mundur pasukan.

Para penghuni parit mengirim Stefan, yang paling jago berbahasa Inggris.

“Kembalilah esok hari dengan membawa sebanyak mungkin informasi dan persediaan makanan” Titah Stein.

Stefan hanya berpakaian kaos putih khas seorang operator artileri, dan dengan membawa palu, berharap para tentara Inggris tak akan mengenalinya.

“Kembalilah hidup-hidup” Bisik Fritz.

Stefan kemudian mulai untuk meninggalkan parit, walau dengan rasa cemas, ia harus percaya diri, bahwa ia akan segera kembali membawa apa-apa yang diperlukan. Berbekal palu, sebotol air, dan bendera Jerman untuk ia tunjukkan saat kembali ke parit asal, ia berlari menuju garis depan pada malam hari, hilang menuju kabut.

Esok Hari…   

“Aku rasa Stefan akan tak akan kembali lagi, mungkin dia sudah ditawan di sana, atau lebih buruk lagi…” Keluh Fritz

“Aku rasa tidak mungkin akan terjadi pertumpahan darah, pasukan kita pasti telah memukul balik Inggris.”

Hari-hari sunyi ini terus berlanjut, di mana tidak terlihat satupun orang menembakkan senapan mereka, tapi bagaimana pun, mereka harus tetap siaga dengan segala kemungkinan baru.

Herman mulai mengambil sebilah pisau untuk memotong sebuah kentang yang ia simpan.

“kau masih ada kentang tersisa? Sejak kapan” Tanya Stein

“Ayolah, sudah berapa banyak desa kita lewati dengan sawah dan kebun mereka yang ditingggalkan? Ada kesempatan di sana” kata Herman sambil tertawa kecil.

“Hei, orang tua, aku tahu kentang itu sangat enak, tapi bisakah kau sedikit berbagi? Berbagi itu indah kata ibuku” Karl datang.

“Dirimu yang masih muda mestilah makan makanan yang masing baru, kentang ini sudah dingin”

“Apa aku terlihat peduli? Kita sudah tak lama menyentuh tungku dan roti panas”. Bantah Karl

“Karl, apa yang membuatmu berpikir untuk masuk ke sini dan bertarung untuk negara?” Stein berusaha mengalihkan topik.

“Mudah saja, petualangan.”

“Apakah orang tuamu tak cemas akan dirimu? Kau seharusnya masih sekolah” Tanya Herman sambal memberinya irisan kentang.

“Apa mereka pedulikan aku? Mereka tak tahu di mana kau berada sekarang”

“Ayolah, kta seharusnya bicarakan hal yang lain, kita mestilah pertanyakan Stefan di sana”. Karl menghentikan topik.

Tiba-tiba, terlihat seseorang pemuda berpakaian khas tentara Inggris lari dari kejauhan menuju parit mereka. Ia membawa SMLE MK III Inggris, dan kelihatanya dia siap menembak.

‘Tentara Inggris!! Di sana!’ Teriak Fritz.

“Apa yang ia lakukan?! Ini adalah aksi bunuh diri untuknya”

“Dia pasti membawa sebuah granat untuk dilemparkan kepada kita!”

Para tentara jerman sudah siap membidik, dan senapan Gewehr mereka yang sudah dingin moncongnya siap menembak kapanpun.

“Berhenti!! Dia sudah menyerah! Dia mengeluarkan bendera putih!” Teriak Herman

Pemuda berpakaian tantara Inggris itupun langsung terjun menuju parit dan terbaring menghadap para tantara Inggris.

“Seseorang bisa berbahasa Inggris disini?” Tanya Stein kepada teman-temannya.

“Sudahlah Stein, Aku bisa” Stefan dalam keadaan letuhnya membuka pakaian tantara Inggrisnya yang ia bawa dari garis depan.

Exit mobile version