Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Ibuku

أُمِيِّ

بقلم محمد جبران ويدافي

(طالب الفصل الثالث التكثيفي جاء من بيكاسي)

أُمِّي، بِاهْتِمَامِكِ كَبِرْتُ
وَفِي دِفْءِ فُؤَادِكِ احْتَمَيْتُ
بَيْنَ ضُلُوعِكِ اخْتَبَأْتُ
وَمِنْ كُلِّ عَطَائِكِ ارْتَوَيْتُ

أُمِّي، أَرَى وَجْهَكِ مُطْمَئِنًّا
كَنُورِ الشَّمْسِ فِي الصَّبَاحِ البَاكِرِ
اِعْلَمِي أَنَّ نُورَكِ فَوْقَ الأَنْوَارِ
وَكُنْتِ مِصْبَاحَ الصُّدُورِ فِي شِدَّةِ الظُّلْمَةِ

وَمَا بَيْنَ حُبٍّ وَحُبٍّ
أُحِبُّكِ أَنْتِ

وَمَا وَاحِدَةٌ وَدَّعَتْنِي
وَوَاحِدَةٌ سَوْفَ تَأْتِي

أُفَتِّشُ عَنْكِ هُنَا وَهُنَاكَ
كَأَنَّ الزَّمَانَ الوَاحِدَ زَمَانُكِ أَنْتِ

الأُمُّ… كَلِمَةٌ صَغِيرَةٌ وَحُرُوفُهَا قَلِيلَةٌ
لَكِنَّهَا تَحْتَوِي عَلَى أَكْبَرِ المَعَانِي
فِي الحُبِّ وَالحَنَانِ وَالتَّضْحِيَةِ

كَيْفَ سَتَكْرَهُ أُمَّكَ؟
اِرْفَعِي نَظَرَكِ إِلَى السَّمَاءِ يَا أُمِّي
فَبَكَى بُكَاءً شَدِيدًا
وَيَنْزِلُ المَاءُ قَلِيلًا فَقَلِيلًا
بَعْدَ أَنْ رَآكِ بَاكِيَةً

لَوْ فَتَحْتَ كُلَّ القُلُوبِ
لَنْ تَجِدَ قَلْبًا كَقَلْبِ وَالِدَتِكَ
قَلْبُ الوَالِدَةِ لَا يَتَكَرَّرُ
مَعَ احْتِرَامِي لِلزَّوْجَاتِ

أُحِبُّ كُلَّ شَيْءٍ فِيكِ
بِاسْتِثْنَاءِ غِيَابِكِ
وَكُنْتِ أَكْبَرَ شَوْقِي
قَدْ تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ مَعَكِ دَائِمًا وَأَبَدًا

Ibuku
Oleh: M. Gibran Widapi, Santri Kelas 3 Int B

dengan kasihmu aku bertumbuh,
dalam hangat hatimu aku berlindung,
di sela-sela dadamu aku bersembunyi,
dari segala curahan cintamu aku mereguk kehidupan.

Ibuku,
kulihat wajahmu setenang fajar,
seperti cahaya mentari di pagi buta.
Ketahuilah, cahayamu melampaui segala cahaya,
engkaulah lentera di tengah gulita.

Di antara ribuan cinta,
akulah yang memilih mencintaimu,
bukan karena engkau hadir dan pergi,
tetapi karena seluruh waktuku adalah milikmu.

Aku mencarimu di tiap sudut waktu,
karena bagiku, seluruh masa adalah engkau.

“Ibu” — sebuah kata kecil,
dengan huruf yang sedikit,
namun menyimpan lautan makna:
cinta, kasih sayang, dan pengorbanan sejati.

Bagaimana mungkin hati membenci ibu?
Tataplah langit, wahai ibu,
dan menangislah—
maka langit pun ikut mencucurkan air matanya,
sedikit demi sedikit,
karena ia melihatmu menangis.

Andai seluruh hati manusia kubuka,
takkan kutemui hati seagung hatimu.
Hati seorang ibu,
tak tergantikan sepanjang zaman,
dengan segala hormatku untuk para istri.

Aku mencintai segala sesuatu darimu,
kecuali saat-saat engkau tiada.
Engkaulah rinduku yang terdalam.
Aku selalu berharap,
dapat bersamamu…
selamanya, untuk selamanya.

Exit mobile version