Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Mari Memaafkan

Oleh: M. Gama Alhafeezy Maunandar, 1-B

Mengelola hati bukanlah perkara mudah. Memaafkan adalah salah satu bagian dari proses mengelola hati. Terkadang, seseorang yang kita sulit maafkan adalah saudara sesama muslim, kondisi ini nyatanya jauh lebih kompleks dari yang kita kira. Masalah ini, kaitannya sangat kuat dengan penataan hati, letak masalahnya adalah pada keikhlasan dengan takdir Allah SWT.

Mari berfikir sejenak. Keuntungan apa yang kita dapat dari membenci dan mendendam? Bahkan satu sen uang pun tak kita dapatkan, apalagi pahala.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam hadist yang artinya:

“Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, saling berpaling, saling membenci, saling mendengki, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidaklah halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. (Diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi)

Supaya kita semakin semangat memaafkan, saya akan menceritakan kepada kalian kisah yang terdapat dalam hadist dan diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim.

Pada suatu hari Rasullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya. Umar pun pertanya kepada Rasulullah “apa yang membuatmu tertawa ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab “aku diberitahu, bahwa pada Hari Kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT. Salah seorang mengadu kepada Allah seraya berkata “Ya rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku, karena dulu dia pernah berbuat zalim kepadaku”

Allah SWT berfirman “Bagaimana aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikit pun?”

Orang itu berkata “Ya rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya”

Rasulullah pun menangis, lalu Beliau berkata “Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya.” Lalu Allah SWT berkata kepada orang yang mengadu tadi “Sekarang angkat kepalamu!”

Orang itu mengangkat kepalanya, kemudian ia berkata “Ya Rabb aku melihat di depanmu ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan putri dan singgasananya yang terbuat dari emas dan perak bertahtakan intan berlian. Istana-istana itu untuk Nabi ya, Ya rabb? Untuk syuhada yang mana, Ya rabb?”

Allah SWT berfirman, “Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya.” Orang itu berkata, “Siapakah yang mampu membayar harganya, Ya rabb?” Allah SWT berfirman “Engkau pun mampu membayarnya “

Orang itu pun terheran heran seraya berkata “Dengan cara apa aku membayarnya, Ya rabb?” Allah SWT berfirman, “Caranya adalah dengan memaafkan saudara yang duduk di sebelahmu, yang engkau adukan kezalimannya kepadaku.” Orang itu berkata “Ya rabb, kini aku telah memaafkanya “

Allah SWT berfirman, “kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu”

Masya Allah …. Itulah kisah dari Imam Al-Hakim. Banyak sekali hikmah yang kita petik dari kisah ini, salah satunya adalah balasannya bagi orang yang memaafkan saudaranya.

Exit mobile version