Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Moti Santri

from @quantabooks

Resensi Buku oleh M. Aidan Athallah Fath, santri kelas 3-B dari Tangerang

Judul Buku: Moti Santri

Nama Penulis: Saiful Falah

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Desember 2019

Ketebalan: 170 halaman

Ukuran: 13×19 cm

Jenis Tulisan: Motivasi Santri

Jenis Kertas: A5

Resensi Buku

Buku ini mengisahkan kehidupan pesantren yang selalu penuh warna, dengan santri sebagai aktor utama yang menyimpan beragam cerita. Tiada kebahagiaan yang dimonopoli, tiada kesedihan yang tak dibagi. Suka duka santri di pesantren bagaikan saat menikmati siomay—saat menggigit telur terasa gurih, saat menggigit pare terasa pahit. Namun, perpaduan rasa itulah yang menciptakan kenikmatan tersendiri.

Buku ini memuat kisah-kisah tentang santri, baik yang masih belajar di pesantren maupun yang telah berbaur dengan masyarakat. Buku ini juga mengangkat kisah para mantan santri yang telah menjadi tokoh-tokoh besar di masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk memotivasi para santri agar tidak menyerah dalam menggapai cita-cita dan menjadi pemimpin masa depan.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini. Banyak hikmah yang bisa diselami. Ternyata, santri yang gemar mengaji tidak hanya menjadi kiai, tetapi juga bisa menjadi menteri, bahkan presiden. Semoga buku ini dapat menjadi motivasi bagi para santri dalam meniti kehidupan yang penuh berkah, Insya Allah.

Tentang Penulis

Saiful Falah lahir di Bogor, Jawa Barat, pada September 1982. Sejak remaja, ia gemar membaca dan mulai menulis. Suami dari Nuril Izzah ini sehari-harinya mengabdi di sebuah pesantren modern bernama Ummul Quro Al-Islami, Leuwiliang, Bogor.

Ia telah menerbitkan tiga karya tulis dan aktif dalam komunitas Santri Nulis, yang bertujuan untuk menyebarkan semangat menulis di kalangan santri. Dengan motto Bermakna Lewat Pena, komunitas ini mengadakan pelatihan menulis di berbagai pesantren dan madrasah. Harapannya, akan lahir ribuan penulis dari kalangan santri yang menggunakan tulisan sebagai media penyebaran kebaikan.

Ulasan Buku

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, terutama bagi calon santri yang masih bimbang dengan pilihannya dan bagi santri lama yang masih merasa kurang betah di pondok pesantren. Buku ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang membutuhkan motivasi lebih untuk terus berkembang dan membuktikan bahwa banyak tokoh sukses yang lahir dari kalangan santri.

Buku ini mengisahkan perjalanan santri-santri yang kemudian menjadi tokoh penting di masyarakat, mulai dari motivator, pejabat kepolisian, hingga presiden. Buku ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan, khususnya para santri, agar mereka semakin termotivasi untuk mengejar mimpi yang tidak mustahil untuk diwujudkan.

Dari segi desain, buku ini memiliki tampilan yang menarik dengan nuansa keislaman yang khas. Selain berisi tulisan yang inspiratif, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto tokoh penting yang dulunya merupakan santri biasa, tetapi kemudian menjadi pemimpin masyarakat.

Bagi saya yang awam, santri adalah golongan yang siap antre. Kehidupan di pesantren bagaikan kawah candradimuka bagi para santri. Santri tidak tinggal sendiri; mereka harus berbagi dalam banyak hal. Satu kamar mandi digunakan oleh dua puluh orang, satu dapur digunakan oleh lima ratus orang, santri tidur berdesakan dalam satu kamar, dan mengantre sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Para santri kelak akan menjadi pelopor kebaikan, agen perubahan yang membawa kemaslahatan, menyeru masyarakat kepada kebenaran, dan mencegah mereka dari kebatilan. Di pundak santri terdapat masa depan umat, karena santri adalah pemimpin mereka.

Manfaat Buku

Buku ini memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah membentuk santri agar dapat menjadi penengah dalam masyarakat. Buku ini juga memotivasi para santri untuk memiliki cita-cita yang tinggi dan menjadi tokoh penting di masanya nanti.

Layaknya Emha Ainun Najib, seorang santri yang menjadi legenda di dunia budaya tanah air. Badroddin Haiti, seorang jenderal polisi dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, juga dulunya seorang santri asal Jember. Begitu pula K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden RI 1999-2001, yang pernah merasakan pahit manis kehidupan santri sebelum akhirnya menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan.

Buku ini menunjukkan bahwa perjalanan seorang santri bisa berujung pada pencapaian yang luar biasa. Dari santri, mereka tumbuh menjadi pemimpin, dan dari pesantren, mereka meraih kesuksesan yang besar.

Exit mobile version