Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Pemakaian Bahasa Sarkasme di Media Sosial

From@chevvy

Artikel oleh M. Deryl Hermana, santri kelas 3-D dari Bogor

Pendahuluan

Sarkasme dalam media sosial merupakan bentuk ejekan atau cemoohan yang dapat disampaikan melalui tulisan, foto, maupun video. Penggunaan bahasa sarkasme di media sosial mencerminkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan berbahasa yang kurang baik, tidak berkarakter, dan tidak menjunjung tinggi etika kesantunan dalam berkomunikasi. Jika hal ini terus dibiarkan, dampaknya bisa meluas dan menciptakan budaya baru yang berpotensi mengikis karakter asli bangsa Indonesia.

Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis penggunaan bahasa sarkasme di media sosial Twitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komentar netizen pada akun Twitter @AREAJULID yang mengandung bahasa sarkasme. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik pencatatan, yaitu dengan membaca dan mencatat komentar yang mengandung unsur sarkasme. Sumber data penelitian ini adalah komentar netizen dalam akun Twitter tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sarkasme di media sosial, khususnya Twitter, sangat tinggi. Hal ini menyebabkan pelanggaran terhadap prinsip kesopanan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Latar Belakang

Sarkasme merupakan salah satu jenis majas yang di dalamnya terkandung kata-kata pedas dengan tujuan menyakiti hati orang lain dalam bentuk ejekan atau cemoohan. Secara etimologi, sarkasme berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata “sark” yang berarti “daging” dan “asmos” yang berarti “merobek”. Secara harfiah, sarkasme berarti “merobek daging”.

Media sosial adalah platform digital yang memungkinkan penggunanya untuk bersosialisasi secara daring melalui komunikasi berbasis foto, video, dan tulisan. Selain sebagai sarana komunikasi, media sosial juga digunakan untuk memperoleh informasi terbaru, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sarkasme dalam media sosial dapat berbentuk ejekan atau cemoohan yang dituangkan melalui tulisan, foto, maupun video. Penggunaan bahasa sarkasme yang tidak terkendali di media sosial mencerminkan adanya degradasi etika berbahasa di kalangan masyarakat Indonesia. Jika tidak diatasi, hal ini dapat berdampak luas dan menciptakan budaya komunikasi yang kurang santun, yang pada akhirnya dapat mengikis karakter asli bangsa Indonesia.

Dampak Sarkasme terhadap Sasaran

Seseorang yang menjadi sasaran sarkasme, terutama yang bersifat merendahkan atau merugikan, dapat mengalami stres, rasa malu, bahkan depresi. Sarkasme sering digunakan untuk menyampaikan pandangan kontroversial atau kritik sosial dengan gaya humoris. Namun, jika tidak digunakan dengan bijak, sarkasme dapat berdampak negatif bagi individu maupun lingkungan sosial secara keseluruhan.

Kesimpulan

Bahasa sarkasme di media sosial merupakan bentuk komunikasi tertulis yang mengandung kata-kata kasar, pedas, dan ejekan yang ditujukan kepada seseorang. Penggunaan bahasa sarkasme secara berlebihan merupakan tindakan yang kurang baik karena dapat menyakiti perasaan orang lain, memberikan dampak negatif bagi pengguna media sosial lainnya, serta berpotensi mengikis karakter asli bangsa Indonesia yang dikenal dengan budaya sopan dan santun dalam berbahasa.

Exit mobile version