Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Pentingnya Karakter dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Raihan Hafiz Arianda, Siswa Kelas 2-B dari Bogor

Perbincangan mengenai karakter tidak ada habisnya. Bagaimana tidak? Adakah sesuatu di dunia ini yang tidak berhubungan dengan karakter? Karakter adalah landasan peradaban. Tidak ada peradaban tanpa karakter. Karakter sejatinya adalah peradaban itu sendiri. Peradaban berdiri atas nilai-nilai luhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi setelahnya.

Dalam konteks pendidikan, karakter memiliki batasannya sendiri. Menurut Hamzah B. Uno (2007) karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar. gaya belajar, kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.

Pendidikan karakter merupakan program prioritas negara. Dituangkan dalam rencana pembangunan jangka Panjang (RPJP) nasional tahun 2005 – 2025 (UU no.17 tahun 2007), yaitu “Mewujudkan masyarakat yang memilih akhlak mulia, moral, etika budaya, dan juga memiliki tata krama berdasarkan falsafah Pancasila.”

Mengutip laman kompas.com, dalam rencana pembangunan jangka panjang tersebut, bangsa Indonesia memerlukan para pemuda kreatif dan inovatif serta memiliki karakter religius, cinta kebersihan dan lingkungan; bersikap jujur, peduli, serta cinta tanah air.

Para pemuda masa ini telah memiliki banyak gelar pendidikan, namun hal tersebut belumlah cukup, karena yang diperlukan ialah seorang pemuda dengan karakter baik serta memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Gelar ternyata belum menjamin kualitas seseorang di saat ini.

Di dalam buku kecerdasan ganda ‘multiple intelligences’, Daniel Coeman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan, kejujuran sebagai contohnya. Penanaman rasa kejujuran pada diri anak sangat penting sebagai benteng kokoh bagi anak-anak. Jika tidak, keadilan akan hilang dan tingkat kriminalitas akan melonjak.

Sementara itu, saat ini proses pendidikan sendiri masih banyak mengejar aspek kognitifnya saja daripada aspek psikomotoriknya, sedangkan kebutuhan akan kecerdasan emosional dan sosial sudah mencapai 80%. Namun, sampai saat ini kecerdasan intelektual dalam kehidupan hanya dapat menyentuh angka 20% saja, hasil ini masih cukup kecil daripada yang dibutuhkan dunia pada saat itu yaitu mencapai 80%.Kara

Di antara stategi dalam pengembangan pendidikan karakter adalah melalui multiple intelligence (multiple talent approach). Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak didik yang merupakan pengembangan potensi yang membangun self concept yang menunjang kesehatan mental. Dengan demikian, Pendidikan mampu mencapai seluruh aspek yang ada di Masyarakat.

Penerapan multiple intelligence di lembaga pendidikan bisa diatur dengan membagi kurikulum menjadi tiga bagian: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Hal ini sebagaimana yang diterapkan oleh KMI di Gontor, diterapkan pula oleh Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia.

Exit mobile version