Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Pesantren Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Santri

Oleh: Bayu Segarahin Harahap, Guru KMI

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam bersistem asrama, kiai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya. Demikian definisi pesantren yang secara umum tersebar di masyarakat. Beberapa poin yang perlu dikaji dan dipahami dengan baik dan tepat, yakni maksud dari lembaga pendidikan Islam, bersistem asrama, kiai sebagai sentral figur, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya

Memahami pesantren secara komprehensif diperlukan agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru. Menjadi santri bertahun-tahun mungkin tak menjamin bisa memahami dan memahamkan apa dan bagaimana itu pesantren. Karena yang terpenting adalah cara pandang yang tepat. Maka, bukan hanya masyarakat umum yang mungkin bisa keliru memahami tentang pesantren, namun santri sendiri, banyak yang kurang paham tentang pesantrennya. Itulah yang akhirnya menimbulkan masalah demi masalah di dalam pesantren maupun di masyarakat luas.

Kali ini saya akan memaparkan sudut pandang saya sebagai santri Pondok Gontor, yang juga sedang mengabdikan diri dalam pendidikan santri di Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia. Dulu, saya mungkin adalah satu-satunya bagian dari keluarga besar orang tua saya yang memilih untuk melanjutkan sekolah menengah atas di pesantren. Singkat cerita ketika pelajaran agama Islam kelas 9 SMP, saya tertarik dengan materi sejarah Wali Songo, dan berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di pesantren. Dan tiba-tiba saja terbersit pula pikiran, “apa jawaban saya bila anak-anak saya nanti bertanya tentang agama dan ayahnya tak bisa menerangkannya?”.

Saya mencari info tentang pesantren, dan tetangga-tetangga saya selalu menyebutkan Gontor dan Tebu Ireng sebagai opsi untuk mondok. Dan akhirnya pilihan saya jatuhkan pada Gontor, pesantren yang akhirnya membantu saya dalam proses pendewasaan, membangun pola pikir, dan membentuk kepribadian. Sedikit demi sedikit saya memahami bahwa mondok di KMI (Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah) yang “MAHAL” adalah nilai dan filsafatnya. Bahwa ini adalah “PONDOK KEHIDUPAN”. Cita-cita besar nan luhur yang ingin dibangun oleh para pendiri pondok, hingga pondok ini diwakafkan ke ummat Islam. Itu adalah warisan yang amat sangat pantas untuk diperjuangkan oleh generasi demi generasi setelahnya.

Nilai-nilai agung yang hanya bisa dijalankan dengan keikhlasan dan pengorbanan santri-santrinya. Itu menjadi ujian bagi semua, termasuk Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia yang juga bertekad melanjutkan nilai perjuangan itu. Darul Ilmi ingin berjuang bersama membangun pembentukan karakter umat. Generasi muslim, yang kini banyak dikhawatirkan tercemar oleh budaya yang jauh dari akhlakul karimah.

Orang tua, pondok dengan para pendidiknya, serta lingkungan pergaulan, menjadi tiga faktor terpenting pembentukan karakter santri. Maka, ketika ketiganya bisa sinkron dengan al-Qur’an dan Sunnah, akan sangat mungkin bagi santri untuk memiliki akhlak dan adab yang baik. Pemahaman dan penerapan nilai-nilai pondok dengan baik juga amat penting bagi keberhasilan sistem pendidikan di pesantren. Moto pondok, panca jiwa, serta berbagai nilai dan filsafat hidup dari kiai untuk santri-santrinya, menjadi bekal yang sangat penting bila kita dapat menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Exit mobile version