Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Surat Pilu dari Ibu

Oleh: Alva Rijal Fadhil

Jika kutawarkan padamu,
Apakah mau kau bekerja untukku?
Tanpa upah walau seribu,
Tiada libur, bagaikan babu.

Tentu, kau takkan pernah mau,
Aku pun memaklumi jawabanmu.
Mungkin hanya orang gila,
Bekerja keras sukarela,
Tanpa imbalan sebagai balasannya.

Namun, apakah kau sadar
Bahwa dirimu kurang memperhatikan sekitar?
Seseorang dengan sadar, tanpa gentar,
Mengangguk atas pekerjaan yang tak wajar.
Padanyalah terkadang dirimu kurang ajar.

Kau memasang muka masam,
Padahal hanya diminta membeli garam.
Terucap kesal, dirimu mengerang,
Memperdebatkan hal sepele, bahkan soal sembahyang.

Jangan terlambat menyesal,
Karena sesal tak datang di awal.
Kuberi tahu dirimu,
Tentang surat rahasia yang ditulis semua IBU.

Nak, jika aku sudah tua, rawatlah aku, sayangilah diriku,
Seperti aku merawat kecilnya dirimu.
Jika aku mulai sulit berjalan, tuntunlah aku,
Seperti aku menuntunmu perlahan.

Nak, jika buang hajat mulai terasa sulit bagiku,
Jangan kau tunjukkan tampang jijik di depanku.
Sungguh, itu menyakitkan bagiku.
Ketahuilah, tak pernah sekalipun aku jijik
Pada apa yang keluar darimu.

Jika tubuhku mulai sulit diajak bergerak,
Bersabarlah, Nak.
Aku pun bersabar mengajarimu merangkak.

Maaf, Nak, jika aku banyak meminta.
Apakah kau menyadarinya?
Demi melihatmu bahagia, aku bahkan rela berdusta.

Terakhir, Nak, sungguh…
Aku ingin kepalamu yang paling dekat dengan perutku.

Tak ada komentar. Itu surat ibu kita untuk kita.

Exit mobile version