Site icon Darul Ilmi Indonesia: Beranda Pengetahuan

Teleskop Kakekku

Oleh: Haikal Akbar Karim, 2-B

Tring! Tring! Tring! Jam wekerku berbunyi, pertanda pagi telah datang. Aku berusaha bangkit dari ranjangku, lalu berjalan menuju jendela, membukanya, dengan hangat cahaya matahari menyiram wajahku. Kesiur angin perlahan melewati bingkai jendela, serela diriku. Usai merapikan ranjang, aku pun turun ke lantai satu, di tangga, aku melihat ibu sedang memasak sarapan pagi ini, tangannya begitu lihai dan cekatan, seakan alat-alat masak itu mainan sehari-harinya.

Aku beranjak ke teras depan, mengambil handuk yang sedang dijemur, aku melihat ayahku sedang minum kopi sambil membaca majalah publik terbaru. Dirinya terduduk di atas bangku hijau di teras, aku pun masuk ke dalam rumah. Berjalan ke arah kamar mandi, hari ini aku harus bersiap pagi-pagi, karena hari ini aku akan pergi ke rumah kakekku.

Aku Salman, inilah kisahku selama aku liburan di rumah kakekku, bertualang mengitari angkasa tak berujung, bersama kakek, orang yang hebat.

Aku sudah selesai mandi, ayahku juga sudah selesai, ibu telah meletakkan makanan di meja makan, kami semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Aku meraih piring dan sendokku, lalu menyendok nasi serta mengambil lauk. “Salman, apakah kamu sudah mengemasi pakaian-pakaian mu?”, tanya ibu. Lantas aku mengangguk, aku pun kembali mengunyah, “ibu…” aku menghentikan makanku. “bagaimana kabar kakek? Dan seperti apa dia?” aku bertanya.

Ibu lantas tersenyum pada sang ayah, “kakekmu baik-baik saja di kampung sana”. Ibu menjawab pertanyaan pertamaku, “kakekmu juga adalah seorang yang hebat, dirinya memiliki sebuah laboratorium sederhana yang menakjubkan, karena kakekmu adalah seorang imajiner yang begitu hebat, dirinya behasil membuat proyeksi luar angkasa, sentuhan warna dan cahayanya membuat orang lain terpana”. Jawab ibu.

“Oleh karena itu bersiaplah, kita akan pergi ke rumah kakek hari ini”. Sambung ayah. Aku pun bersorak hore! Segera bergegas menyiapkan barang-barang. Mobil sudah siap di halaman rumah. Aku memasukkan tas ranselku ke dalamnya.

“kau sudah siap, Salman?” tanya ayah, di kedua tangan nya tertenteng sebuah tas. Aku segera masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang. Ayah masuk, duduk di kursi pengemudi, ibu duduk di sebelahnya. “pasang sabuk pengamanmu, Salman, kita akan berangkat”, ayah menyalakan mobil. Mobil mendesing, lantas melaju dengan kecepatan standar.

Tiga jam berlalu.

Pemandangan yang kulihat sekarang bukan gedung-gedung pencakar langit, melainkan hamparan luas bukit bukit hijau serta gunung-gunung yang menjulang tinggi, pohon-pohon rimbun di samping kana kiri jalan, hamparan sawah yang berpetak petak. Inilah suasana pedesaan.

Tin! Tin! Suara klakson mobil dibunyikan. Mobil kami memasuki halaman rumah, ayah memarkirkan mobil di salah satu sisi halaman. Aku melepas sabuk pengamanku. membuka pintu mobil. Lantas melompat dari mobil. Ayah menurunkan tas-tas dari bagasi. Aku membantunya membawa tas-tas kecil.

“Assalamualaikum!” ibu mengetuk pintu rumah.

“Waalaikumsalam” terdengar santunan dari dalam. Tanpa butuh waktu lama pintu segera dibuka. “Iya….. masya Allah, Maryam!” itu nenekku. Ia berseru terkejut. Lantas memeluk ibu. “apa kabarmu nak?” ibu memeluk nenek sama eratnya.

“Alhamdulilah baik” jawab ibu, dirinya tersenyum. Ayah muncul dari belakang sambi menggendong tas ransel. “Assalamualaikum”, ayah memberi salam. Nenek langsung menoleh kepadanya, “Waalikum salam…” nenek segera berjalan ke arah ayah. Ayah pun menyalami nenek. “kok kesini ga bilang bilang sih?” tanya nenek.

Ibu tersenyum. “sengaja bu biar jadi kejutan”. Nenek balas tersenyum.

Nenek pun melirik ke arahku lantas tersenyum dan mengarah kepadaku. “Masya Allah…. Kamu, salman kan?” tanya nenek. Aku pun tersenyum lantas mengangguk. Nenek segera memelukku. “sudah lama nenek tidak bertemu kamu, Salman. Sekarang kamu sudah jadi remaja tangguh saja. Padahal, terakhir kali nenek bertemu kamu, salman. Kamu masih di timang-timang” nenek tersenyum kepadaku, melepaskan rindu akan diriku.

“Ngobrolnya di dalam saja lah, kasihan tuh, mereka lelah habis perjalanan jauh”. Di bingkai pintu, rupanya kakek sedang mengawasi kami dari tadi. Ayah dan ibu segera menyalami kakek. Aku pun juga segera menyalami kakek. Kakek mengelus-elus pelan rambutku. “sudah besar saja cucu kakek yang satu ini”. Kata kakek. Ia tersenyum padaku.

“ya sudah, ya sudah. Mari masuk. Kalian pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh”. Nenek mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Ayah dan ibu segera beranjak masuk, aku menyusul dari belakang. Ini akan menjadi pengalaman liburanku paling menyenangkan, dijamin.

Kami semua duduk di atas sofa yang tertata rapi di ruang tamu. Di atas meja tersuguhi makanan-makanan ringan, sejak tadi ayah dan kakek asyik bercengkerama satu sama lain, aku hanya terduduk mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan. Sedangkan ibu, sedang membantu nenek menyiapkan teh di dapur. Sekarang aku mulai bosan.

“Ayo diminum tehnya”. Nenek datang, dibawanya nampan berisikan teh. Ibu mengekor di belakang. Ia meletakkannya di atas meja. Aku pun meraih satu gelas teh. Ibu duduk di sampingku. “Salman, sekarang kelas berapa?”

“kelas 6, nek” jawabku.

“Owh, besok kamu ikut gih, ke lab kakekmu”. Kakek menoleh ke arah nenek. “barangkali kamu bisa belajar sesuatu yang baru di sana”, kakek kembali terkekeh.

Malam tiba

Aku menatap langit malam. Suara serangga memecahkan heningnya malam. Udara di sana cukup dingin, aku memutuskan untuk memakai jaket. “Salman, ayo kita pergi”. Kakek berdiri di sampingku. “sekarang kek?”. Aku menatap kakek. Kakek pun mengangguk, kami beranjak meninggalkan pekarangan runah. Kakek mengantarku dengan motor tuanya.

Sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami tiba di lapangan rumput luas dengan sebuah pohon akasia di tengahnya. Pohon tersebut terukir indah. Dan di atasnya juga terdapat rumah pohon yang luasnya kira-kira 10 × 5 meter. Aku terkesima melihat rumah pohon tersebut. “ayo, Salman. Tunggu apa lagi?”. Kakek sudah lebih dulu menaiki tangga. Aku menyusulnya dari belakang.

Setelah menaiki tangga akhirnya kami tiba di balkon rumah pohon, pemandangan pegunungan sejauh mata memandang. Suara jangkrik terdengar di mana-mana. Kakek membuka pintu rumah pohon. Aku membuntutinya dari belakang.

Begitu aku masuk ke rumah pohon, aku sangat takjub melihat interior ruangan yang tidak biasa. Mungkin dari luar, rumah pohon ini hanya bagai tumpukan kayu yang tertata rapih. Namun, ketika masuk ke dalamnya, ruangan ini bagai mesin waktu yang membawa kita menuju masa depan serta mengembalikan kita ke masa abad pertengahan.

Di ruangan tersebut terdapat beberapa sofa yang terlihat tua. Di pojok ruangan juga terdapat perapian yang apinya sedang bergemeletuk. Juga terdapat beberapa lukisan serta pahatan pahatan kayu. Tapi bukan itu yang membuat rumah pohon itu terlihat mengagumkan, melainkan, terpampang beberapa hologram di beberapa sudut ruangan. Tabung reaksi yang bejejer rapih, panel yang berfungsi sebagai keyboard, serta benda benda menarik lainnya.

“ini keren sekali” aku menatap takjub sekitar ruangan ini.

“keren? Tentu saja, siapa dulu yang membuat rumah pohon ini”. Kakekku terkekeh. “tentu saja, kakek” kami pun tertawa Bersama.

Aku mulai berkeliling melihat lihat sekitar. Klakek sedang focus dengan hologramnya. Jari jemarinya lihai memainkan panel, ia mengetik sesuatu di hologram tersebut. “Salman, bagaimana? Kau sudah siapuntuk melihat proyeksi milik kakek?” kakek bertanya kepadaku. Aku pun mengangguk, tentu saja aku siap. Tunggu apa lagi.

Kakek pun mengetuk panel tersebut. CTAK. Lampu ruangan seketika padam. Semua menjadi gelap. Namun, setelah satu menit berlalau… WOOOSHH. Rumah pohon seketika berubah menjadi ruang angkasa yang luas.

Aku menatap takjub sekitar. Kakek berdiri di depanku. “selamat datang di proyeksi ruang angkasa milik kakek, salman. Ini menakjubkan bukan. Aku memberi proyeksi ruang angkasa ini dengan nama ‘space world art’ dirimu bisa melihat banyak pergerakan serta awal mula dari suatu tempat tinggal makhluk hidup, fenomena langka, bahkan hal hal yang tak terduga”. Ini benar benar menakjubkan. Bayanganku tentang proyeksi ini benar benar di luar ekspetasi ku.

“oh ya, kakek lupa memartikan sistem gravitasinya”. Kakek menepuk dhi. Lalu ia menepuk kedua tangan nya dua kali. PLAK! PLAK! Kaki kami pun seketika terangkat. Kaki ku melayang, tidak menyentuh lantai ruangan. “kau pasti tahu, salman di luar angkasa lepas tentu saja tidak ada gravitasi, kan. Artinya sekarang kita bisa terbang bebas ke segala arah”. Kakek memutari asteroid yang melintas, dirinya melayang dengan bebas. “hei, salman. Kau ingin melihat sesuatu yang menakjubkan?”. Aku pun mengangguk, kakek langsung berbalik badan. Menuju senbarang arah.

“kau tahu salman? Di luar angkasa kita dapat melihat begitu banyak benda langit yang jika di lihat dari bumi tidak nampak sedangkan jika di luar angkasa nampak sangat jelas”. Aku menatap kakek takzim. “contohnya adalah gas-gas yang memutari sebuah galaksi” kakek berhenti sejenak. Menunjuk sebuah galaksi yang tak beraturan di atas kami. Galaksi tersebut terlihat seperti dua cat air yang berbeda warna ditumpahkan menjadi satu, “lihat galaksi itu, dua lubang hitam yang ada di galaksi itu menyatu! Karena jarak mereka yang saling berdekatan maka mereka menghisap satu sama lain, terlebih lagi itu sebenarnya dua galaksi yang terpisah, namun menyatu karena kedua lubang hitam saling menghisap. Kakek menjelaskan tentang dua galaksi yang bercampur.

Kakek pun kembali terbang, sekarang kami berada di kawasan lenggang, namun di atas kepal kami di penuhu bintang gemintang yang berkelap-kelip, aku mendongak. “bintang bintang selalu menipu kita, Salman. Mungkin sekarang kamu melihat bintang-bintang itu sebesar sebuah kelereng. Namun jika dirimu mendekati bintang tersebut, maka ukurannya bisa saja lebih besar dari ukuran bumi atau bisa jadi lebih besar dari Jupiter.

“dahulu kala, para nelayan china menggunakan bintang-bintang sebagai kompas ketika malam hari. Mereka merangkai bintang-bintang tersebut sehingga membentuk manusia, hewan, benda, alat perang hingga simbol.” Kakek berhenti sejenak. Telunjuknya teracung. Bergerak bagai menggambar suatu bentuk. Seketika, dari satu bintang ke bintang lain terhubung sebuah garis hingga membentuk simbol. “coba kau tebak, Salman. Apa yang telah kakek buat?”. Kakek menunjuk bintang tersebut.

Aku menyipitkan mataku. Berusaha menebak simbol apa itu. Namun aku tak bisa menebaknya, lantas menggeleng sambal menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Kakek lantas tertawa. “itu adalah smbl dari konstelasi aries”. Symbol tersebut seketika berubah menjadi gambar/hologram domba. “para masyarakat Yunani kuno dahulu, membuat konstelasi konstelasi itu untuk membesar besarkan dewa dewa mereka. Mereka mengabadikan kekuasaan dewa dewa mereka dengan symbol.

“apa kau tahu, Salman. Ada berapa konstelasi bintang selama setahun?”.

Aku mengangguk. “seingat ku ada 12”.

Kakek mengangguk takzim. “itu benar, umumnya yang kita tahu bahwa bintang berjumlah 12, namun sebenarnya konstelasi bitang berjumlah lebih dari itu. Misalnya, seperti orion, chamelon, aphroditr, dan lain lain”.

Kakek kembali menepuk tangannya PLAK! PLAK! Keadaan kembali seperti semula, ruangan kembali menjadi tampilan awal. Proyeksi telah di matikan. “hei salman, sebenarnya aku mengajak mu kesini bukan untuk melihat proyeksi angkasa, melainkan untuk melihat ini…..” kakek menyerahkan kotak berwarna putih kepada ku, lantas aku menerimanya, dan ketika aku buka -.

“….inilah yang kakek ingin tunjukan kepadamu. Sebuah teleskop rancangan sederhan yang bisa menangkap gambar benda angkasa dengan begitu jelas. Ya… memang ini bukan teleskop HUBO milik NASA namun kemampuannya sudah setara dengan teleskop itu.”. aku Bahagia bukan main. Aku tak percaya bisa memegang teleskop secara langsung.

“dan taukah kamu, Salman. Teleskop ini kuberikan kepada dirimu.” Sungguh!. Bukan hanya memegang teleskop, bahkan bisa menghak milik secara langsumg. Ini benar benar kejadian yang tak dapat di sangka.

“apakah kau suka?”.

“tentu saja kakek”. Aku mengangguk lantas tersenyum.

“baguslah kalau brgitu. Ayo kiya tidur, ini sudah terlalu malam untuk kakek terjaga”. Kakek pun segera mengteuk panel hologram. Sebuah Kasur segera muncul dari salah satu meja kerja. Aku pun segera merebahkan badanku. Kakek mematikan lampu ruangan bahkan sebelum tidur aku di nuat takjub denganm ruangan ini, langit langit ruangan seketika berubah menjadi pemandangan langit malam hari. Bintang bintang serta rembulan Nampak jelas di langit langit ruangan.

Ini benar benar menjadi pengalaman liburan paling terbaikku. Melihat luar angkasa secara langsung. Melihat gas angkasa warna warni, lubang hitam yang saling berinteraksi, komet yang berkali kali melintas membentuk ekor api yang Panjang nan indah, berbagai macam konstelasi dengan latar belakang yang membelakanginya, dan sekarang aku di berikan teleskop yang begitu canggih.

Namun, terlpeas dari itu semua, aku mempelajari beberapa hal hari ini. Behwasanya dunia ini luas. Tak sebatas bumi yang kita lihat sekarang. Banyak hal hal menarik yang perlu kita pelajari, mungkin diluar sana terdapat banyak fenomena langka yang tak bisa di jelaskan dengan akal naluri manusia biasa. Dan aku mempelajari bahwa semua keterbatasan dan kesetaraan alam semesta telah di atur oleh sang pencipta. Tak ada lagi selain yang maha esa yang bisa menciptakan alam semesta yang indah nan luas. Dengan keajaiban dan misteri dan iulah yang kudapat selama liburan kali ini. Pelajaran sera pengalaman yang tak dapat tergantikan.

Exit mobile version