Jadikan Mondok Sebagai “Masterpiece”, Ustadz Gilang Bedah Visi Misi dan Panca Jiwa PMDII di Kuliah Umum
Melanjutkan rangkaian orientasi kepesantrenan, Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia (PMDII) kembali menggelar sesi Kuliah Umum tentang Kepesantrenan pada Senin (7/9) pagi, pukul 08.00 hingga 09.15 WIB. Sesi yang penuh antusiasme ini diisi langsung oleh Al-Ustadz Dodik Gilang Islami, S.H., M.Si., yang membedah tuntas Visi, Misi, Panca Jiwa, Panca Jangka, serta Motto pesantren.
Dalam pemaparannya yang interaktif, Al-Ustadz Gilang membuka wawasan para santri dengan sebuah analogi modern: “Mondok adalah simulator kehidupan nyata”. Beliau mematahkan ekspektasi bahwa mondok hanyalah rutinitas masuk kelas dan membawa pulang ijazah. Sebaliknya, pesantren adalah wadah di mana santri dilatih menjadi manusia seutuhnya—dilatih akhlaknya, fisiknya, cara berpikirnya, hingga cara bekerja sama—sehingga tidak hanya mendapat nilai bagus, tetapi benar-benar siap hidup dan bermanfaat di masyarakat.
Untuk mencapai target karakter tersebut, PMDII merancang “Arsitektur Pembentukan Karakter Santri” yang sangat terstruktur:
-
Panca Jiwa (Nilai Dasar): Bertindak sebagai bekal hidup utama santri yang mencakup Keikhlasan (berbuat tanpa pamrih/gengsi), Kesederhanaan (menyeimbangkan gengsi dan kemampuan), Berdikari (mandiri mengurus diri sendiri), Ukhuwah Islamiyah (menjaga persaudaraan tanpa pandang bulu), dan Kebebasan (bebas berpikir dengan adab).
-
Motto Pesantren (Karakter Ideal): Santri dididik agar memiliki “statistik” karakter yang seimbang, yaitu Berbadan Sehat, Berbudi Tinggi, Berpengetahuan Luas, dan Berpikiran Bebas.
Selain itu, Al-Ustadz Gilang juga memaparkan “Panca Jangka” Pondok Modern sebagai pedoman pengembangan lembaga. Panca Jangka ini meliputi: Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah (kemandirian ekonomi), serta Kesejahteraan seluruh elemen pesantren.
Beliau juga menyoroti peran sentral organisasi santri di PMDII. “Organisasi adalah laboratorium kepemimpinan, bukan tempat cari jabatan atau gaya-gayaan,” tegasnya. Di dalam organisasi, santri mendapatkan mode latihan sesuai perannya masing-masing; mulai dari belajar mengambil keputusan sebagai ketua, belajar rapi sebagai sekretaris, jujur sebagai bendahara, hingga taat aturan sebagai anggota.
Menutup kuliah umum pagi itu, Al-Ustadz Gilang mengingatkan bahwa ujian kelulusan yang sebenarnya bukanlah deretan angka di atas kertas. Masyarakat tidak hanya akan bertanya soal nilai, tetapi akan menilai apakah lulusan pesantren bisa bekerja sama, bisa dipercaya, dan bisa memberikan solusi. Oleh karena itu, beliau berpesan secara mendalam, “Jadikan masa mondokmu masterpiece terbaikmu. Dari sinilah kalian sedang disiapkan dan dilatih untuk menjadi pemimpin di masa depan”.

