Monday, November 2, 2026
HomeKarya Santri1984 (By George Orwell)

1984 (By George Orwell)

Resensi Buku oleh M. Darrel Abiyyu Rakha, Santri Kelas 3 Int B.

Cetakan Pertama: 8 Juni 1949
Penerbit: Secker & Warburg
Jumlah Halaman: 408 Halaman

Novel 1984 (Nineteen Eighty-Four) adalah karya George Orwell, seorang novelis asal Inggris. 1984 merupakan salah satu karya terbesar Orwell setelah Animal Farm dan Homage to Catalonia.

Novel ini ditulis pada tahun 1949. Tujuh bulan setelah diterbitkan, George Orwell meninggal akibat TBC yang telah diidapnya selama dua tahun sebelum kematiannya.

Novel ini menggambarkan situasi dunia pada tahun 1984 dalam suasana distopia di negara adidaya. Dalam novel ini, dikisahkan bahwa negara-negara besar seperti Amerika, Uni Soviet, dan China (yang dalam novel disebut sebagai Oceania, Eurasia, dan Eastasia) menjadi kekuatan terbesar di dunia pada tahun 1984. Meskipun demikian, mereka terus berperang demi ideologi, wilayah, dan kekuasaan.

Oceania mencakup seluruh benua Amerika, Oseania, serta Kepulauan Inggris. Lokasi utama novel ini disebut sebagai Airstrip One. Eurasia mencakup Eropa dan sebagian besar wilayah Uni Soviet, sementara Eastasia meliputi Jepang, Korea, China, dan India bagian utara. Di tahun 1984 versi Oceania, mereka telah menciptakan bahasa sendiri yang disebut Newspeak untuk menggantikan Oldspeak atau bahasa Inggris standar. Newspeak diciptakan agar Partai dapat mengontrol rakyatnya. Dengan kosakata yang terbatas, Partai utama dapat mengendalikan pemikiran masyarakat dan mencegah mereka memikirkan hal-hal yang bertentangan dengan pemerintah, karena konsep-konsep tertentu telah dihapus dari bahasa mereka.

Novel ini mengisahkan seorang pria bernama Winston Smith yang berusia 49 tahun, yang berusaha menyingkirkan rasa ragu dan keinginan untuk menentang pemerintah di negaranya, Oceania, demi menjadi warga negara yang baik.

Di Oceania, privasi hanya menjadi fantasi. Selama 24 jam, helikopter dengan kru dan kamera mengawasi apartemen-apartemen para pekerja di Partai Luar dan Partai Dalam. Televisi mereka dilengkapi dengan alat pendengar dan kamera yang mampu mengenali wajah serta membedakan siapa yang dianggap bersalah oleh Partai. Selama seseorang tidak membenci dan melawan pemerintah, mereka akan aman, tetapi privasi mereka sepenuhnya diawasi.

Oceania juga memiliki Polisi Pikiran (Thought Police/Thinkpol), yang bertugas mendeteksi dan menghapus kejahatan pemikiran serta mengontrol populasi melalui pengawasan audio-visual dan pembuatan profil individu.

Slogan Partai yang selalu digaungkan adalah: Perang adalah Perdamaian, Kebebasan adalah Perbudakan, Kebodohan adalah Kekuatan. Spanduk bertuliskan “BUNG BESAR SELALU MENGAWASI ANDA” terpampang di setiap sudut kota, dengan gambar seorang pria berkumis tebal dan tatapan menyeramkan. Oceania bukanlah negara yang ingin Anda tinggali jika Indonesia bubar nanti.

Sejak kecil, Winston telah kehilangan kedua orang tuanya saat revolusi di London terjadi. Ia tidak dapat mengingat banyak hal, begitu pula dengan warga London yang lebih tua. Pemerintah telah berhasil mendoktrin rakyatnya untuk percaya kepada Partai secara mutlak.

Winston sering merasa dirinya gila, karena pikirannya bertentangan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Walaupun ia bekerja untuk Partai Luar di Oceania, dirinya tetap sering mempertanyakan kekuasaan pemerintah. Winston hanya menginginkan kebebasan sejati. Di Oceania, pernikahan hanya digunakan sebagai sarana untuk memiliki anak yang nantinya akan menjadi anggota Partai. Di tengah keputusasaannya, Winston bertemu dengan Julia di sebuah toko antik yang terletak di daerah kaum proletar—kaum yang dianggap tidak lebih dari hewan oleh pemerintah.

Di toko antik tersebut, Winston berkenalan dengan Charrington, pemilik toko yang sering bercerita tentang suasana London sebelum revolusi kaum sosialis. Selain itu, Winston juga berkenalan lebih dekat dengan O’Brien, seorang anggota tinggi Partai Dalam yang ternyata diam-diam juga membenci pemerintah. Winston diundang ke rumah O’Brien, di mana ia diberikan sebuah buku yang ditulis oleh Emmanuel Goldstein, seorang tokoh oposisi yang melarikan diri dari Oceania untuk membantu negara-negara yang menentang Partai.

Selama menjalani hubungan rahasianya dengan Julia, Winston sering membaca buku tersebut. Namun, ia tidak menemukan banyak hal baru di dalamnya, melainkan hanya penegasan dari apa yang telah ia pikirkan selama ini.

Winston dan Julia menyewa sebuah kamar di toko Charrington. Kamar tersebut memiliki televisi dan kasur empuk peninggalan keluarga Charrington. Namun, keadaan berubah mencekam ketika tiba-tiba televisi di kamar itu menyala, menampilkan wajah Sang Pemimpin (Supreme Leader), yang berkumis tebal dan berwajah kaku. Ia memerintahkan Winston dan Julia untuk mengangkat tangan dan berdiri.

Tiba-tiba, toko tersebut dikepung oleh polisi, dan Charrington ternyata adalah seorang mata-mata yang selama ini memantau Winston. Untuk pertama kalinya, Winston melihat wujud asli seorang Polisi Pikiran.

Ulasan Pribadi

Buku ini masih layak untuk dibaca dan dipajang di rak-rak buku, meskipun isinya terkesan kuno. Beberapa pembaca berpendapat bahwa isi novel 1984 merupakan prediksi atau ramalan tentang masa depan. Walaupun banyak hal dalam novel ini tidak terjadi pada tahun 1984, teknologi seperti Smart City, helikopter pengawas, dan alat pendengaran baru menjadi kenyataan pada tahun 2000-an.

Latar belakang novel ini, yaitu London, dikisahkan sebagai tempat yang distopia dengan pengawasan penuh dari pemerintah. Saat ini, London memiliki sekitar 900 ribu CCTV, yang menunjukkan adanya pengawasan masif seperti yang dikisahkan dalam novel.

Orwell juga mengatakan bahwa negara di masa depan akan membangun kekuatannya dengan menghancurkan jiwa manusia. Namun, ia percaya bahwa manusia akan dipaksa untuk tunduk, bukan sekadar dipermainkan. Mereka akan kehilangan sifat kemanusiaannya bukan karena kekayaan atau teknologi, tetapi karena hidup dalam ketakutan, kebodohan, dan kekurangan.

Dalam novel ini, televisi diperkenalkan sebagai Telescreen, di mana warga negara diawasi selama 24 jam. Setiap rumah dan tempat kerja dilengkapi dengan alat ini untuk memantau kejahatan pemikiran. Saat ini, teknologi semacam itu dapat ditemukan dalam bentuk Face Recognition yang digunakan di berbagai negara.

Kesimpulan

Buku ini layak dibaca oleh mereka yang ingin memahami konsep pemerintahan totaliter dan kontrol penuh terhadap masyarakat. Novel ini juga cocok bagi mereka yang ingin menambah perspektif terhadap distopia politik. Sebagai catatan, 1984 dapat menjadi bacaan pelengkap bagi mereka yang tertarik dengan teori sosialisme, mengingat George Orwell memiliki latar belakang ideologi sosialis.

Moral yang Dapat Diambil

George Orwell menulis 1984 untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang bahaya dari pemerintahan yang memiliki kontrol penuh atas warganya. Rezim totaliter di Oceania mampu memanipulasi rakyat agar mempercayai apa pun yang mereka inginkan, sehingga memberikan mereka kekuasaan yang tidak terbatas.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments