Monday, November 2, 2026
HomeCerpenKeluarga

Keluarga

Cerpen oleh Bayu Widya Tantra Gea, santri kelas 5-B asal Nias

Dunia bukanlah sesuatu yang mutlak. Ibarat dua rasa yang berkumpul dalam satu ruang, dunia selalu menyisakan rasa kekecewaan di sisi kepuasan. Tak ada yang sempurna. Bahagiaku tak sempurna, bersanding dengan sedih dan marah yang juga tak sempurna. Karena kutahu, kita belumlah hidup di keabadian.

Dan apakah yang dimaksud dengan keluarga itu? Banyak orang bilang bahwa keluarga adalah tempat berpulang bagi anggotanya, tempat bercerita di kala hati sedang lara, tempat tinggal yang hangat, dan sebagainya. Bukan sekadar tempat yang dihuni oleh orang-orang dengan ikatan darah semata. Namun menurutku, keluarga itu tidak seperti yang mereka katakan, karena keluargaku jauh dari bayangan orang-orang tentang keluarga ideal.

Namaku Rehan Syahputra, anak kedua sekaligus anak terakhir dari dua bersaudara. Aku memiliki orang tua yang lengkap, tetapi menurutku jauh dari kata lengkap. Ayahku adalah seorang CEO di sebuah perusahaan terkemuka di ibu kota (Jakarta), sedangkan ibuku adalah seorang artis dengan banyak penggemar. Mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Aku juga memiliki seorang kakak perempuan yang sedang melanjutkan studinya di universitas negeri dan tidak kalah sibuk.

Secara ekonomi, keluargaku bisa dibilang sangat berkecukupan. Namun, percuma kami memiliki rumah besar, mobil mewah, dan fasilitas lainnya jika keluargaku tidak pernah punya waktu untuk bersama. Bahkan, sekadar sarapan pun jarang kami lakukan bersama, kecuali jika ada hal penting yang perlu dibicarakan, seperti pagi ini.

“Ayah ingin ke luar negeri selama enam bulan,” kata ayah memecah keheningan.

“Untuk apa?” tanya ibu.

“Urusan perusahaan,” jawab ayah.

“Di mana?” tanya ibu lagi.

“Di Amerika,” jawab ayah singkat.

“Aku juga ingin melanjutkan S2 di Inggris dua bulan lagi,” sahut kakakku.

“Ya sudah,” kata ibu tanpa ekspresi.

“Tapi itu akan semakin menambah jarak di antara keluarga kita,” protesku.

“Kita juga sudah terbiasa seperti ini dari dulu. Ayah dan ibu tidak pernah punya waktu untuk kita, selalu sibuk,” kakak berseru ketus.

Ayah dan ibu hanya saling bertatapan. Begitulah percakapan kami saat sarapan, yang kemudian menjadi percakapan terakhir kami bersama untuk waktu yang cukup lama. Ibu semakin sibuk, pulang larut malam hanya untuk beristirahat dan pergi bekerja pagi-pagi sekali. Aku menjalani hariku seperti biasa—bangun, mandi, sarapan, lalu berangkat ke sekolah.

…

Semua teman-temanku selalu beranggapan bahwa keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Namun, mereka tidak tahu kebenarannya. Dari dalam mobil, aku sering menatap iri teman-temanku yang diantar oleh orang tua mereka, sedangkan aku hanya ditemani sopir keluarga. Mereka hanya melihat apa yang tampak dari luar.

“Hai, Rehan,” suara seseorang memecah lamunanku.

“Ayo masuk kelas,” ternyata itu adalah Citra, teman sekelasku sekaligus teman yang duduk semeja denganku. Aku kini duduk di kelas 3 SMA di salah satu sekolah elite di Jakarta. Citra adalah teman yang selalu perhatian padaku, selalu ada saat aku sedih, dan tempatku bercerita. Kami pun masuk ke kelas. Masih ada waktu 15 menit sebelum pelajaran dimulai, kami duduk di kursi masing-masing.

“Rehan, kok melamun?” Citra kembali memecah keheningan.

“Oh, tidak. Aku hanya kepikiran keluargaku,” jawabku.

“Keluargamu kenapa lagi? Sepertinya kamu tidak semangat hari ini, berbeda dari hari-hari sebelumnya!” Citra bertanya sambil merapikan poninya yang tertiup angin.

Aku menghela napas, lalu menjawab, “Ayahku ke luar negeri dua bulan lalu. Kemarin, kakakku melanjutkan S2-nya di Inggris. Kami mengantarnya ke bandara, dan ibuku semakin sibuk bekerja.”

Citra menatapku lamat-lamat. Dia adalah cewek idaman para cowok di SMA-ku. Dia memiliki pesona tersendiri—cantik dan baik hati. Ia juga anak tunggal dari seorang pengusaha batik terkenal yang sukses. Orang tuanya lengkap dan sangat menyayanginya. Meskipun sibuk, mereka selalu menyempatkan waktu untuk bercengkerama dengannya. Bahkan, tiap liburan mereka selalu bepergian ke luar negeri bersama.

Aku selalu nyaman berada di dekat Citra. Ayah dan ibunya pun selalu ramah kepadaku. Aku sering berkunjung ke rumahnya untuk mengerjakan tugas sekolah, dan mereka menjadi teman mengobrol yang baik. Tapi aku juga tidak selugu itu. Aku tahu bahwa Citra dekat denganku karena dia memiliki perasaan lebih, tetapi aku pura-pura tidak tahu.

Tidak lama setelah itu, guru pelajaran Bahasa Indonesia datang dan menyuruh kami mengumpulkan buku catatan karena akan ada ulangan dadakan. Semua wajah teman-temanku langsung murung.

Sepulang sekolah, aku dijemput oleh sopir keluarga. Awalnya semua berjalan baik, hingga sebuah mobil memotong jalan. Aku berteriak. Benturan keras terdengar. Aku merasakan seluruh tubuhku tak bisa digerakkan, kepalaku sakit sekali, mataku berkunang-kunang, dan perlahan semuanya menjadi gelap.

Saat aku membuka mata, aku melihat ibu menangis di sampingku. Ia duduk di kursi rumah sakit, tampak sangat cemas. Aku memegang kepalaku yang masih terasa sakit dan menyadari bahwa aku sedang berada di ruang VIP rumah sakit.

“Rehan, jangan banyak bergerak dulu. Yang sakit mana, Nak? Biar ibu obati,” kata ibu dengan suara lembut.

Aku diam saja. Kemarin-kemarin, di mana ibu saat aku baik-baik saja? Kenapa baru peduli sekarang? Saat aku mencoba bangkit, aku menyadari bahwa kakiku tak bisa digerakkan.

“Ibu, kakiku kenapa?” tanyaku cemas.

Ibu hanya menggeleng, lalu memelukku erat. Aku menangis dan berteriak, “Kenapa ibu baru peduli saat aku kecelakaan? Di mana ibu saat aku sehat?”

“Maafkan ibu, Rehan. Ayah dan ibu bekerja demi kebaikanmu dan kakak Lena,” jawabnya lirih.

Ibu menjelaskan bahwa kakiku tidak bisa digerakkan untuk sementara waktu, mungkin sekitar sebulan. Aku harus menjalani terapi dua kali seminggu di rumah sakit. Keesokan harinya, ayah dan kak Lena pulang setelah mendengar tentang kecelakaanku.

Selama aku menjalani masa pemulihan, mereka selalu bergantian menjagaku. Mereka merawatku, membawaku terapi, dan selalu meminta maaf karena telah mengabaikan aku dan kak Lena. Mereka bahkan menghiburku saat aku kehilangan semangat dan menolak makan.

Di samping itu, aku juga terharu karena setelah kejadian itu, mereka mulai meluangkan waktu untukku dan kak Lena. Kak Lena kembali ke London untuk melanjutkan studinya setelah aku sembuh.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments