oleh: Al-Ustadz Sandy Hendra Wibawa, M.Pd.
Tiada hidup tanpa belajar. Tiada peradaban manusia tanpa adanya proses belajar. Tidak akan lahir dokter, pengusaha, pejabat, presiden, direktur, dan bahkan ulama tanpa adanya guru yang mengkader mereka sejak kecil. Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) adalah sarana yang hanya dengannya ilmu-ilmu di dunia ini bisa diwariskan.
Allah menciptakan alam semesta dalam suatu disiplin/aturan tertentu agar semuanya berjalan teratur. Matahari bergerak pada porosnya sedang bulan mengitarinya. Waktu pagi, siang, dan malam muncul bergantian tanpa saling mendahului. Ciptaan-ciptaan Allah SWT tersebut tidak pernah mengingkari aturan dan kuasa-Nya. Dari segala keteraturan ini, Allah SWT hendak menunjukkan kepada manusia bahwa segala sesuatu di dunia ini berdisiplin. Disiplin-disiplin inilah yang kita bisa pahami dengan pengetahuan.
Manusia pertama di dunia, Nabi Adam A.S., berguru secara langsung dengan Allah SWT. Allah SWT memberi Adam dan Hawa banyak pelajaran saat di surga maupun di dunia. Allah SWT mengajari Adam nama-nama dan menunjuknya sebagai khalifah di muka bumi. Di saat inilah Allah menunjuk Adam sebagai guru pertama di muka Bumi.
Nabi Adam mengajarkan keturunannya pengetahuan tentang dunia dan ajaran Allah SWT; dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan Adam setelahnya. Begitulah asal mula kegiatan belajar dan mengajar di dunia ini. Selain itu, Allah SWT juga mengutus para Nabi dan Rasul setelah Adam AS ke setiap peradaban manusia dari waktu ke waktu untuk memperbarui dan melengkapi ilmu/petunjuk bagi mereka agar senantiasa beribadah kepada-Nya. Inilah bentuk pengkaderan guru-guru di dunia.
Mari mengingat kembali perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam. Allah SWT mengutus Jibril A.S. kepada Muhammad SAW untuk membawa wahyu pertama. Saat menerimanya, Rasulullah SAW belum mampu untuk membacanya. Namun, atas izin Allah SWT, Nabi Muhammad SAW mampu membacanya dan menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh bangsa jin dan manusia, sehingga banyak dari mereka yang menganut ajaran Islam. Inilah bentuk perjuangan Rasulullah sebagai hamba Allah yang selalu belajar.
Di tengah perjuangannya membangun peradaban Islam, tidak jarang Rasulullah diuji dengan perbuatan kaum-kaum yang menentang. Namun, Rasulullah tidak pernah menunjukkan keputusasaan sedikit pun. Rasulullah tidak pernah membenci musuhnya, justru malah senang mendoakan mereka. Kesabaran Rasululah yang amat besar ini adalah pelajaran terbaik bagi para guru untuk senantiasa bersabar dan berjuang dalam membangun peradaban. Seandainya tidak demikian, amatlah mustahil bagi dunia untuk berkembang pesat seperti sekarang.
Intinya, hakikat hidup adalah belajar dan mengajar dengan tujuan beribadah kepada Allah SWT. Nabi Adam AS, pada masa awal diciptakannya dunia sudah diwajibkan untuk belajar dan mengajar. Belajar untuk mengenal banyak hal dan mengajar untuk menjaga dan mengembangkannya sebagai amanat risalah. Kita hendaknya memahami betul kapan dan di mana kita berperan menjadi guru atau murid melalui sejarah para Nabi dan Rasul, sehingga kita bisa menjalani kehidupan yang diridai Allah SWT. Tiada kata berhenti belajar, karena hidup tidak pernah berhenti mengajari kita.

