Monday, November 2, 2026
HomeKarya SantriPeluang Santri untuk Terjun di Dunia Politik

Peluang Santri untuk Terjun di Dunia Politik

Wawancara Eksklusif bersama Prof. Dr. K.H. Husnan Bey Fannanie, M.A. oleh santri Haikal Akbar Karim (2-B) dan Azka Abiyyu Kanz Wibowo (2-D)

Bagaimana antum memulai karir di bidang politik?

Berawal dari pesantren Gontor saya aktif di banyak kegiatan, seperti pramuka, muhadlarah, dan OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern). Setelah lulus dari Gontor saya melanjutkan studi di Pakistan (6 tahun). Di sana saya menjadi bagian dari organisasi pelajar Indonesia di Pakistan. Kemudian saya lanjut ke Belanda, saya menjadi anggota PPME (Persatuan Pemuda Muslim Se-Eropa) di Den Haag. Saya pun pernah terlibat dalam momen unjuk rasa terhadap peristiwa genosida di Bosnia Herzegovina. Kami mendatangi Internasional Justice Court (Mahkamah Tinggi Internasional) untuk meminta keadilan. Setelah dari Belanda, saya kembali ke tanah air. Di Indonesia saya diangkat menjadi Sekretaris Wakil Presiden Hamzah Haz (2001–2004). Selain itu, saya juga pernah menjadi anggota Kelompok Kerja Hak Asasi Manusia, Staf Khusus Kementerian Agama dan Staf Khusus Koperasi Negara.

Apa saja tantangan yang antum hadapi saat terjun di dunia politik?

Selanjutnya, tiba waktunya saya menjabat menjadi anggota dewan (DPR). Saya bekerja begitu keras, mencari cara agar orang lain percaya kepada saya. Namun, karena saya dari pondok, saya harus melaksanakannya atas landasan agama. Saya tidak pernah memberikan tawaran/sogokan. Saya sering kali mengisi acara di berbagai tempat. Namun, tidak sedikit orang yang tidak menerima keberadaan saya, namun saya tidak terlalu memikirkan hal itu, karena itulah tantangan, maka jangan jadikan tantangan itu sebagai penghalang kesuksesan.

Apakah santri berpeluang untuk terjun di dunia politik?

Di Pondok Pesantren Gontor, Darul Ilmi, atau di manapun itu santri dididik untuk menjadi manusia yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Di pesantren santri dididik untuk berdisiplin dan menjadi orang yang kreatif (selalu mengerjakan sesuatu yang banyak dikerjakan), progresif (selalu ingin maju), proaktif, dan inovatif (menemukan sesuatu yang baru).

Maka, setiap santri pasti dididik untuk menjadi orang yang mengerti arti tentang kehidupan. Yaitu kehidupan sehari-hari sebagai manusia, sebagai santri, sebagai pelajar, sebagai warga negara Indonesia, dan lain sebagainya. Maka, Pondok Pesantren Gontor dan lainnya juga mendidik santri berdisiplin dan berorganisasi. Penerapannya mulai dari bagian terkecil di pesantren, seperti ketua kamar, pengurus, bendahara, sekretaris, dan lain sebagainya. Dari situlah kita diajarkan untuk berorganisasi, berdisiplin, mandiri, berdikari dan taat kepada organisasi serta agama. Santri harus bisa membangun kehidupan dengan kemampuan berorganisasi yang baik. Jika para santri sudah bisa taat dan teratur, maka tentu sudah bisa mengatur kehidupannya sendiri, mereka sudah layak menjadi seorang pemimpin. Jika ditanya apakah santri bisa menjadi seorang pemimpin? Jawabannya, iya. Karena dalam dirinya telah ditanamkan jiwa kepemimpinan.

Bagaimana pesantren membentuk santri menjadi seorang politikus?

Di dalam pondok pesantren terdapat sebuah peraturan yang mendidik diri kita agar bisa mengatur diri kita dan mengatur dunia. Bicara soal mengatur, di pondok telah diajarkan untuk bisa mengatur. Seperti ketua kamar yang mengatur kamarnya, ketua tim yang mengatur timnya, ketua kelas yang mengatur kelasnya, dan lain sebagainya. Hingga di masyarakat kelak kita bisa menjadi seorang ketua yang mengatur masyarakat. Di dalam pondok juga diajarkan Muhadharah (public speaking), yang melatih kita agar bisa berbicara di depan khalayak. Akhlaqul karimah juga dibutuhkan oleh santri. Karena itulah modal pertama dalam bermasyarakat.

Tidak mungkin orang yang tidak mengerti organisasi dan keteraturan bisa menjadi seorang pemimpin, apalagi politikus. Politik adalah cara atau metode. Contohnya, ketika kita ingin naik kelas maka kita harus belajar, begitulah cara atau metode agar kita bisa naik kelas. Dari situlah kita disebut berpolitik. Politik juga dimaksud dengan cara untuk mendapatkan hasil dari tujuan. Jika ada orang tidak berpolitik dalam hidupnya, maka orang itu tidak waras; karena tidak paham yang namanya metode ataupun cara. Sebagai contoh lain ketika seseorang ingin pergi dari Bogor ke Jakarta jalan kaki, maka orang itu tidak waras, karena tidak mungkin menempuh perjalanan yang begitu jauh dengan cara demikian. Begitulah yang disebut tidak berpolitik. Karena ia tidak memakai metode kehidupan. Alhamdulillah, para santri telah diajarkan metode kehidupan tersebut.

Bagaimana seorang santri mengamalkan ilmunya saat terjun di dunia politik?

Ketika kita belajar agama maka kita belajar kehidupan. Mungkin di mata orang lain santri hanya diajarkan mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Padahal di saat itu juga kita diajarkan tentang kehidupan. Karena Al-Qur’an dan sunnah mengatur kehidupan ‘way of life’ (jalan kehidupan). Ketika kita keluar dari pondok kita tidak akan hanya mengajar Al-Qur’an di mushalla, tapi kita akan mengatur masyarakat. Maka kita, para santri sudah diajarkan untuk mengatur kehidupan. Jika kita sudah bisa mengatur kehidupan, maka kita akan menjadi pengatur kehidupan, sebagai contohnya kita bisa menjadi seorang politikus.

Ketika keluar dari pondok, kita merasa peraturan menjadi longgar. Kadang kita tidak tepat waktu dalam shalat. Ingatlah selalu kalimat dalam adzan ‘Hayya ala shalat’ dan ‘Hayya ala falah’. Mengapa shalat dulu kemudian falah? Ketika kita ingin menang atau sukses maka awali semuanya dengan shalat, karena shalat menjadi komunikasi terbaik kepada Allah. Ketika kita ingin sukses, berdoalah dalam shalat. Namun, ketika kita ingin meraih kemenangan dulu (falah) kemudian Shalat, maka kita sombong atas apa yang diberikan oleh Allah. Jika shalat kita benar, maka benarlah hidup kita. Kita sebagai santri harus memperjuangkan agama Allah meskipun banyak rintangannya. Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwasanya Islam adalah agama yang benar.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments