Monday, November 2, 2026
HomeArtikelYunus: Sang Pelajar dari Timur

Yunus: Sang Pelajar dari Timur

oleh Muhammad Al-Kindi (Santri Kelas 1-B)

Lahir di Nabire, Papua beragama Kristen. Nama non-muslimnya adalah Laurentus Santalucas Kudiyai dan berubah menjadi Muhammad Yunus Kudiyai setelah memeluk Islam. Kelahiran 2006, anak ke lima dari sepuluh bersaudara. Memulai pendidikan dari tingkat SD karena tidak ada TK di Nabire, itupun gurunya jarang hadir, hanya sekali atau dua kali dalam seminggu. Bermain bersama teman sepulang sekolah adalah kebiasaannya. Di hari Minggu, ia ikut ke gereja bersama ibunya yang merupakan aktivis di sana.

Suatu hari di tahun 2012, dia ditawari oleh pamannya untuk ikut merantau ke Jawa. Tujuan utama sang paman adalah untuk menyekolahkannya di Jawa. “Karena Pendidikan di Papua masih rendah,” ucapnya saat diwawancarai oleh tim media Darul Ilmi Indonesia. Sang Paman mengajak merantau dan menyekolahkannya dengan syarat: dia harus memeluk agama Islam. Akhirnya ia ikut merantau dan tinggal di rumah pamannya di Jakarta.

Saat tim media Darul Ilmi Indonesia bertanya padanya tentang perasaan ia setelah masuk islam, ia menjawab “Saat masih Kristen dulu, saya hidup asal hidup, tidak ada aturan, saat saya masuk Islam dan mengucap dua kalimat syahadat, rasanya biasa saja karena waktu itu belum mengerti. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai paham sedikit-sedikit tentang Islam. Dan saya mulai kagum dengan Islam. Karena semua hal diatur sedemikian rupa. Mulai dai hal individual sampai berkelompok, ikatan persaudaraan sesama muslim atau ukhuwah Islamiyah, dan lainnya,” jelasnya.

Pernah menjadi santri di sebuah pesantren dan dipindah ke cabangnya di Jawa Tengah. Namun, Gedung sekolah di sana belum ada, jadi ia sekolah di sekolah lain bernama SD Lentera hati. Lalu ia melanjutkan di sebuah MTS selama 3 tahun.

Pada suatu ketika, seorang tetangga Yunus memperkenalkanya pada Ust. Nababan, Pimpinan Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia. Lalu ia ditawarkan untuk bergabung dan belajar di pondoknya. Awalnya Yunus tidak mau, tapi setelah melihat beberapa mata pelajaran yang menarik hatinya, ia berubah  pikiran dan akhirnya ia menerima tawaran Kiai tersebut.

Di Darul Ilmi ini, Yunus adalah santri mualaf yang duduk di kelas 1 intensif B. Misinya adalah meningkatkan Bahasa Inggris dan Arab, mendalami hadis, melatih sikap kedewasaan, dan lain sebagainya.

Dulu, Saat masih duduk dibangku SD dan SMP, Yunus memiliki cita-cita menjadi seorang pemain bola, Gubernur, dan Dai. Dan setelah belajar di Darul Ilmi Indonesia, ia bercita-cita menjadi seorang ustadz dan penceramah. Dukungan dari banyak teman dan ustad membuatnya semakin yakin untuk menggapai cita-cita mulia tersebut. Dengan modal yakin dan kesungguhan dalam belajar, ia berjuang menghafal banyak ayat al-Qur’an, hadits-hadits, cerita-cerita berbahasa arab, dan pelajaran lainnya. Motivasinya adalah: “Biarkan waktu kebahagiaan yang sedikit itu kira relakan untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih”. Di antara harapan Yunus adalah, “Semoga Darul Ilmi berkembang pesat hari ini dan selanjutnya.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments