Monday, November 2, 2026
HomeAdab/AkhlakLima Prinsip

Lima Prinsip

Cerpen oleh M. Alkindi, santri kelas 3-B dari Bogor

Di bawah malam bertabur cahaya bulan purnama, di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, tampak seorang pria berjalan lunglai menuju sebuah jembatan besar. Langkahnya goyah, pandangannya kosong, seolah sedang mencari sesuatu. Padahal, segalanya telah meninggalkannya.

Ia berhenti di titik yang ia sebut “tengah jembatan”. Angin malam berembus pelan, memainkan rambutnya yang kusut. Ia mendekati pagar pengaman dan mengedarkan pandangan sayunya ke permukaan sungai yang tampak tenang, meski arus di bawahnya mematikan. Dan di sanalah rencananya bermula.

Segala kejadian yang menimpanya, dari dulu hingga hari itu, telah melumpuhkan rasa takutnya—digantikan oleh keputusasaan. Dalam pikirannya, arus deras di bawah sana akan membawanya ke halaman baru dalam hidup. Yang lebih baik. Tapi bukan di dunia yang menurutnya kejam ini.

Ia berpikir sejenak. Mengumpulkan sejumput keberanian dari segumpal darah yang masih mengalir. Kaki kanannya yang telanjang sudah menapak besi pertama pagar pengaman. Saat itu, dua suara dari dalam dirinya mulai bertengkar: akal sehat dan hatinya.

Akal berkata, “Jangan lakukan! Kau tidak boleh mengakhiri semuanya begitu saja! Kumohon… Menyelamatkan secuil kebaikan lebih baik daripada kehilangan segalanya!”

Namun hati membalas, “Abaikan suara akal! Dunia tak pernah peduli padamu! Janji pertolongan bagi orang sabar tak pernah datang! Tuhan sendiri membiarkanmu tenggelam!”

Akal menyela, “Mungkin belum waktunya pertolongan itu datang… Tapi yakinlah, saat semua berpaling, Tuhan tetap di sisimu. Mendekatlah! Jadikan itu harapan terakhirmu.”

Tapi hati tak mau kalah, “Itu hanya angan kosong dari kening yang lelah bersujud! Di mana kasih sayang-Nya? Di mana pertolongan-Nya? Tak ada. Yang ada hanya luka dan kesepian. Lompatlah, kawan… Mungkin di sana, kau akan bertemu Tuhan yang lebih peduli.”

Kaki kirinya yang lecet mulai naik ke besi pertama.

Namun tiba-tiba…

“Waduh, maaf Om, saya mengganggu!” Seorang anak laki-laki berpakaian seragam sekolah agama muncul tiba-tiba, menjatuhkan beberapa buku dari tasnya yang robek.

Sepercik simpati menyusup ke hati pria itu. Ia berjongkok, membantu anak itu memunguti bukunya. Entah kenapa, ada suara kecil yang menahannya untuk pergi. Mungkin karena ia tak ingin anak itu melihat kematian seseorang di depan matanya. Ia juga ingin, setidaknya, ada yang mengingatnya—meski hanya sesaat.

Hatinya mencela keputusannya membantu, karena setelah itu, semua rasa yang telah mati perlahan tumbuh kembali. Meski hanya bagai tunas kecil.

“Apa artinya ini, Nak?” tanyanya penasaran, sambil menunjuk salah satu tulisan di buku anak itu.

“Itu… artinya ‘Prinsip Hidup Hayyan Mutmainnan’,” jawab anak itu sembari memasukkan bukunya ke tas yang sudah robek di bagian bawah.

Pria itu duduk dan mulai membaca. Penasarannya tumbuh. Ia seperti lupa akan niatnya barusan. Sifat ingin tahunya—yang dulu membuatnya terjebak dalam judi online—kini membawanya ke arah yang berbeda.

“Nak, kau mau ke mana setelah ini?”

“Pulang ke asrama. Tak jauh dari sini.”

“Boleh aku ikut? Aku ingin kau menjelaskan tulisan ini lebih dalam.” Anak itu mengangguk, ragu. Tapi wajah pria itu begitu antusias. Seakan ada beban jika ia menolak.

Sesampainya di gerbang asrama, beberapa teman Hudan menatap heran. Siapa pria itu? Om-nya? Ayahnya?

Mereka duduk di salah satu kursi halaman asrama. Diiringi suara jangkrik dan kongkang jeram.

“Namaku Mohtade,” ucap sang pria sambil menjulurkan tangan.

“Aku Hudan, Om. Hehe,” balas anak itu, dengan senyum malu-malu.

“Bisa langsung dimulai? Aku ingin tahu. Mungkin ini akan jadi pengetahuan terakhirku sebelum aku mati,” kata Mohtade santai. Hudan tercekat. ‘Jadi benar tadi Om Mohtade mau…?’

Hudan duduk lebih tegak. Ia paham kini bahwa tugasnya bukan hanya menjelaskan, tapi menyelamatkan.

Prinsip Hidup Hayyan Mutmainnan

Hidup adalah tentang pengabdian kepada yang memberi hidup, kehidupan, dan penghidupan.
Artinya, hidup adalah timbal balik. Tuhan memberi kita hidup, maka kita harus membuat-Nya ridha dengan keberadaan kita. Cara paling sederhana adalah bersyukur: atas hidup dengan menjaganya, atas kehidupan dengan menjalaninya, dan atas penghidupan dengan mempertahankannya.

Jangan berteman untuk hidup, tapi bertemanlah karena kau hidup. Banyak orang menggantungkan hidupnya pada teman. Tapi itu membuat mereka rapuh. Bertemanlah karena kau hidup, artinya bangun hubungan atas dasar ketulusan, bukan ketergantungan.

Kesulitan selalu bergandengan dengan kemudahan. Seperti puzzle yang rumit, jika diperhatikan, selalu ada potongan yang memberi petunjuk. Begitu pula masalah dalam hidup. Di dalamnya ada kemudahan, asal kita mau mencarinya dan mendekat kepada Tuhan.

Hidup adalah risiko. Hanya orang mati yang lari darinya. Hidup selalu tentang pilihan, dan setiap pilihan menyimpan risiko. Keberanian memilih adalah tanda bahwa kita masih hidup. Tanpa keberanian, kita hanya bangkai berjalan.

Tuhan bersama orang-orang yang bersabar. Inilah tameng terakhir. Sabar adalah benteng keimanan. Dengan sabar, kita percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang, meski tak sesuai waktu kita.

“Sebagaimana firman Allah dalam Al-Baqarah: 153:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

‘Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.’”

Hudan terdiam melihat Mohtade yang kini menutupi wajah dengan tangan. Air matanya tumpah. Ia menangis sesenggukan.

“Terima kasih, Hudan. Kamu telah memberiku semangat hidup lagi,” katanya setelah diam cukup lama.

“Bukan saya, Om. Semangat itu datang dari Tuhan. Saya hanya perantaranya.” Hudan tersenyum, matanya juga basah.

Hari itu, Mohtade pulang ke rumah. Membawa lembaran tulisan pinjaman yang terasa seperti lembaran hidup baru.

Hidup memang terkadang membawa kita ke ujung tanduk. Tapi kadang, tanduk itu memanjang… memberi waktu untuk bertahan, dan menemukan jalan pulang.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments