Monday, November 2, 2026
HomeCerpenTiga Permohonan di Balik Awan

Tiga Permohonan di Balik Awan

Cerpen oleh Haikal Akbar Karim 3-B

Awan gelap menyelimuti sore ini. Sudah hampir empat bulan hujan deras membasahi bumi Bogor, membuat matahari jarang tampak. Aku menghela napas sambil duduk, menatap tetesan air hujan dari balik jendela kelas. Menunggu bel pulang berbunyi, air hujan terus-menerus turun dari langit, menciptakan riak di atas genangan.

Kriiinggg!!!
Bel pulang pun berbunyi. Aku segera membereskan barang-barangku, bersiap untuk pulang. Aku mengambil payung yang kuletakkan di samping meja, lalu bergegas menuju pintu keluar. Aku membuka payungku dan berjalan sembari diguyur hujan.

“Farel! Ayo cepat! Nanti hujannya tambah lebat!” Seseorang memanggilku. Ia berdiri di depan gedung sekolah.

“Iya!” sahutku. Rupanya kedua temanku sudah menungguku di sana sejak tadi. Yang memanggilku tadi namanya Noel, dan di sampingnya, temanku, namanya Rania. Aku pun bergegas menghampiri mereka berdua.

“Maaf membuat kalian menunggu.”

Kami pun lekas meninggalkan gerbang sekolah. Kami bertiga pulang bersama, melewati jalan yang biasa kami lalui. Sepanjang jalan, para pemilik toko dan pedagang kaki lima tetap membuka gerai mereka meski hujan membasahi hari-hari mereka. Kemacetan pun tak luput terjadi di jalan raya, disebabkan orang-orang yang pulang kerja. Klakson mobil dan motor saling bersahutan, membuat suasana semakin bising. Kami bertiga melangkah di antara ramainya pejalan kaki. Jalanan yang becek dan berlubang membuat kami harus berhati-hati dalam melangkah.

“Kira-kira kapan, ya, awan gelap itu pergi? Sudah hampir empat bulan lebih pergi-pulang sekolah kehujanan seperti ini,” keluhku.

Noel yang berada di sampingku mengangguk. “It’s right. Padahal BMKG bilang, hujan ini hanya bertahan dua minggu. Nyatanya, sampai sekarang hujannya tak kunjung berhenti.”

“Syukuri saja, El. Hujan kan berkah dari Allah. Kalau di dunia ini tidak ada hujan, bisa mati kita,” Rania menimpali.

“Benar juga,” kata Noel sambil menyeringai. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kami terus berjalan sambil diguyur hujan. Aku pun melamun, menatap langit yang gelap. Aku berpikir sejenak: apa mungkin di atas awan gelap itu ada kehidupan seperti di Kota Bogor? Mungkinkah ada kota lain di atas sana yang bisa dikunjungi oleh orang-orang sepertiku? Atau mungkin di atas sana ada kahyangan tempat para bidadari tinggal? Aku tersenyum kecil. Imajinasiku mulai melayang ke mana-mana.

“Wah! Teman-teman lihat ini,”
Langkah Rania terhenti. Ia menunjuk sesuatu dan pikiranku pun buyar.

“Kalung ini begitu indah, terlihat berkilauan.”

Rupanya yang membuat Rania berhenti adalah sebuah kalung yang dijual oleh seorang nenek tua.

“Matamu begitu jeli, Cuk. Kalung ini memang menawan. Sebuah permata biru yang menggantung di tali kalung itu membuat orang yang melihatnya terpesona. Jika Cucu menginginkannya, Nenek bisa menjualnya dengan harga murah.”
Nenek tua itu tersenyum pada Rania.

“Benarkah?!”

Rania terlihat sangat senang mendengar ucapan sang nenek. Ia langsung merogoh kantongnya, mengambil sejumlah uang, lalu memberikannya kepada sang nenek. Kalung itu pun berpindah tangan.

“Ini indah sekali. Terima kasih, Nek.”

“Sama-sama, Cuk. Oh ya, kalung itu juga punya keistimewaan.”

Aku melirik kalung tersebut. Keistimewaan? Apa itu?

“Selain permata biru yang memikat mata, kalung itu juga memiliki keajaiban. Ketika gerimis turun dan matahari sedikit terlihat, kalung itu bisa mengabulkan tiga permintaanmu.”

“Tiga permintaan?!”
Kami bertiga tersontak bersamaan. Nenek tua itu pun tersenyum. Kami segera melanjutkan perjalanan setelah membeli kalung dari nenek tadi. Rania terlihat senang mengenakannya, terlebih kalung itu bisa mewujudkan permohonan.

“Aku tidak terlalu percaya dengan apa yang nenek itu katakan. Mana mungkin sebuah kalung bisa mewujudkan permohonan? Lagipula, kalian tahu sendiri, Kota Bogor selalu hujan. Tidak mungkin cahaya matahari tampak.”

“Bisa jadi,” protes Rania. “Mungkin saja awan gelap itu bergeser sedikit, lalu cahaya matahari menembusnya walau sebentar.”

Tepat setelah kalimat itu terucap, cahaya matahari menyiram payung kami. Kami mendongak bersamaan, menatap langit.

“Tidak mungkin…”
Noel menatap tak percaya. Langit menurunkan gerimis, dan cahaya matahari menyinar malu-malu. Setelah empat bulan, kini cahayanya mulai terlihat.

“Aku berharap…”
Aku menoleh. Rania mulai mengucapkan permohonannya.

“Aku berharap para burung dan kucing bisa keluar dari persembunyiannya, agar aku bisa kembali bermain dengan mereka di taman.”

Kesiur angin berhembus.

Aku melirik ke kanan dan kiri. “Sudah selesai?!”

Tak ada yang terjadi.

“Aku rasa ini butuh waktu,” jawab Rania.

“Ini bukannya butuh waktu. Nenek itu memang berbohong padamu, Ran,” celetuk Noel sambil menyeringai. Rania menghela napas, kecewa.

Kami pun tiba di perempatan dan berpisah di sana. Sebelum berpisah, aku mengingatkan mereka untuk pergi ke bukit di belakang desa untuk melanjutkan proyek dari guru IPA.

Keesokan harinya, langit kembali gelap. Hujan turun deras, membasahi atap-atap rumah, jalanan, dan pepohonan. Aku segera berangkat ke sekolah sambil membawa payung, lalu menunggu kedua temanku di gerbang. Beberapa menit kemudian, mereka tiba.

“Maaf telat. Aku tadi menunggu hujan sedikit reda,” kata Rania. Kalung yang ia beli kemarin masih melingkar di lehernya.

“No problem,” ucap Noel. “Yuk, kita langsung ke bukit sebelum hujan makin deras.”

Kami bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang agak licin. Setelah beberapa menit, kami tiba di bukit belakang desa. Pemandangan dari sana biasanya indah, namun pagi ini diselimuti kabut dan awan rendah. Di sana, kami mulai menyusun peralatan proyek IPA: roket air dari botol bekas.

“Sudah siap semua?” tanyaku.

“Siap!” jawab Rania dan Noel serempak.

Kami mulai mengisi botol dengan air dan menyiapkan pompa. Kami berencana meluncurkan roket ke udara sebagai bagian dari eksperimen fisika sederhana. Aku memegang roket sambil menghitung mundur.

“Tiga… dua… satu…”

WHOOSH!!!

Roket meluncur ke langit. Tapi… sesuatu yang aneh terjadi. Bukannya jatuh kembali seperti biasa, roket itu malah menembus awan gelap dan tidak kembali.

Kami semua saling berpandangan. “Kok… hilang?” gumam Noel.

“Mustahil…”

Tiba-tiba, langit bergemuruh. Angin berputar kencang di sekitar kami, membentuk semacam pusaran. Tanah di bawah kaki kami berguncang. Sebelum sempat kabur, pusaran itu menyedot kami bertiga ke dalamnya.

“AAAAAAAAA!!!”

Kami merasa tubuh kami melayang, lalu… semuanya gelap.

Ketika kami membuka mata, kami sudah berada di tempat yang sangat berbeda.

Langit biru cerah membentang, matahari bersinar terang. Rumput berwarna hijau terang terhampar luas, dan bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Bangunan-bangunan seperti kristal berdiri megah, dan makhluk-makhluk bersayap beterbangan di udara. Di kejauhan, ada air terjun yang mengalir dari langit!

“Kita… di mana ini?” bisik Rania dengan mata terbelalak.

“Apa ini… dunia di atas awan?” kataku sambil terpana.

Seorang wanita berjubah putih mendekat kepada kami. “Selamat datang di Altaria, negeri di atas awan,” katanya dengan suara lembut. “Hanya mereka yang memiliki kalung permata biru dan hati yang bersih yang bisa masuk ke sini.”

Kami bertiga tercengang. Rania memegang kalung di lehernya, yang kini bersinar terang.

Wanita itu tersenyum. “Kalian boleh mengajukan dua permintaan lagi. Tapi ingat, gunakan dengan bijak.”

Kami pun saling berpandangan. Aku memejamkan mata, lalu berkata:

“Aku berharap semua orang di kotaku bisa melihat matahari lagi, meskipun hanya satu hari.”

Kalung itu bersinar terang, lalu langit di bawah sana mulai berubah. Awan-awan gelap perlahan menyingkir, dan sinar matahari menyapa Kota Bogor setelah empat bulan tertutup mendung.

Noel mengangkat tangan. “Aku berharap… kami bisa kembali ke rumah dengan selamat dan membawa cerita ini sebagai kenangan.”

Sekali lagi, kalung itu bersinar.

Dalam sekejap, tubuh kami melayang lagi. Angin berputar, dan semuanya berubah jadi putih terang.

Kami terbangun di bukit belakang desa, basah oleh hujan, tapi tidak ada pusaran atau makhluk bersayap. Hanya langit yang… cerah.

Kami menatap langit, tersenyum. Mungkin orang lain tidak akan percaya. Tapi kami tahu, dunia di atas awan… benar-benar ada.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments